Menggali Manisnya Potensi Kelulut di Penajam, Kisah Ahmad Jais Membangun Jaisbee Farm

Ahmad Maki • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 13:39 WIB
Ahmad Jais melakukan penyedotan madu kelulut dari koloni miliknya. (IST)

 
Ahmad Jais melakukan penyedotan madu kelulut dari koloni miliknya. (IST)  

 

KALTIMPOST.ID, PENAJAM – Pandemi Covid-19 pada tahun 2019 lalu menyisakan banyak cerita kehidupan. Bagi Ahmad Jais, momen pembatasan sosial tersebut justru menjadi titik balik lahirnya usahanya.

Jaisbee Farm, sebuah budidaya lebah tanpa sengat (stingless bee) atau yang akrab disapa warga lokal sebagai lebah kelulut.

Berlokasi di RT 06, RW 25, Desa Girimukti Start 7, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara(PPU), usaha ini ia rintis dan kembangkan bersama rekan sesama pembudidaya, Supriyanto.

Baca Juga: Pastikan Kelayakan Konsumsi, DLH PPU Siapkan Uji Laboratorium Independen dan Pelajari Treatment Air

Mengawali ceritanya, Ahmad Jais membeberkan gambaran umum mengenai dunia perlebahan yang terbagi menjadi dua kelompok besar. Yakni, lebah Apis dan lebah Stingless Bee (kelulut).

Lebah Apis seperti spesies Mellifera, Cerana, hingga lebah hutan Dorsata, merupakan jenis lebah berukuran relatif besar yang bersengat dan membentuk sarang berupa pola heksagonal. Pola budidaya lebah Apis berorientasi pada gaya nomaden alias berpindah-pindah tempat mengikuti pasokan musim bunga.

"Lebah Apis itu makannya banyak dan sifatnya berpindah-pindah. Kalau di Jawa lagi musim bunga randu, kotaknya ditaruh di sana. Begitu selesai dan masuk musim rambutan, dibawa pindah lagi. Makanya nektarnya acap kali dijual sebagai multiflora," kata Jais, saat ditemui di lokasi pekarangan koloninya, Sabtu (25/7/2026).

Baca Juga: Goa Kelelawar di Kaubun TawarkanWisata Alam yang Masih Asri, Menanti Sentuhan Pengembangan dari Pemerintah  

Sebaliknya, lebah Stingless Bee tidak memiliki sengat, tidak menggigit, berukuran kecil seukuran lalat, dan perilakunya cenderung menetap. Spesiesnya sangat beragam, antara lain Itama, Thoracica, Leviceps, Fuscobalteata, hingga Biroi.

Di Pulau Jawa, jenis yang lazim ditemui adalah Leviceps (dikenal sebagai klanceng). Namun, untuk pulau Kalimantan, spesies unggulan yang mendominasi adalah jenis Itama.

"Di Kalimantan, baik Kalbar, Kalteng, maupun Kaltim, dominatnya memang jenis Itama. Di peternakan kami sendiri, fokus utamanya adalah Itama, meski ada beberapa kotak yang diisi jenis Thoracica," terangnya.

Baca Juga: Antisipasi Kekeringan di PPU, Pemkab Rancang Pemanfaatan Air Eks Tambang PPC Buluminung

Langkah pertama Jais diawali pada 2019 setelah menimba ilmu dari rekannya sesama peternak madu di Paser. Menguji rasa penasaran, ia memberanikan diri membeli satu kotak koloni lebah kelulut dari Kalimantan Barat untuk dipelajari di pekarangan rumahnya.

Titik balik perkembangan usahanya terjadi sewaktu seorang rekan seprofesi di bidang perkebunan, Mas Teguh, bertamu ke rumahnya dalam perjalanan dinas menuju Samarinda. Melihat potensi lahan pekarangan rumah Jais yang luas dan dipenuhi pohon kelapa, Teguh mendorongnya untuk menyeriusi budidaya ini.

Karena lebah kelulut bersifat menetap dan tidak berpindah-pindah tempat, kunci keberhasilannya terletak pada ketersediaan vegetasi pakan. Jais tak menyia-nyiakan lahan di sekeliling rumahnya dengan aktif menanam aneka tumbuhan berbunga penghasil nektar, seperti tanaman merambat Air Mata Pengantin, Santos Lemon, hingga Batavia.

Baca Juga: Pasar Pagi Masih Sepi, DPRD Dukung Kafe Rooftop dan Minta Disdag Tegas Tarik Lapak Mangkrak

Semangat menghijaukan lingkungan ini bahkan menular ke warga sekitar. Jais sempat membagikan tanaman pakan lebah dalam polibag kepada tetangga-tetangganya agar vegetasi lingkungan makin subur sekaligus memperindah kawasan pemukiman.

Setelah vegetasi siap, ia mulai mendatangkan puluhan koloni baru bertahap dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Pemdes Girimukti juga pernah mengadakan pelatihan Budidaya lebah kelulut di Jaisbee Farm, lalu melakukan pengadaan koloni kelulut yang dibagi ke para RT.

“Kami juga ada grup WhatsApp Asosiasi Perlebahan Indonesia (API) PPU dengan 12 anggota ra- rata dari pak RT tersebut," ucapnya.

Satu kotak koloni kelulut dihuni oleh ribuan lebah beserta satu ratu di dalamnya. Secara alami di hutan, lebah Itama membuat sarang di bagian dalam batang kayu atau pohon yang lapuk.

Jais membagikan gambaran rantai nilai ekonomi dan tahapan budidaya lebah ini. Mulai dari bentuk log mentahan. Batang pohon berisi sarang lebah alami yang dipotong oleh pemburu di hutan. Masih polos dan belum dilengkapi tempat panen khusus.

Itu dikisaran harga Rp250.000. Kemudian ada pula, log ber-topping atau siap kembang. Log mentah yang di atasnya telah dipasangi kotak kayu (topping), biasanya dikisaran harga kurang lebih Rp600.000.

Setelah masa adaptasi sekitar 4 bulan, lebah akan membuat kantong-kantong madu dan kantong telur merambat naik ke kotak topping tersebut. Sistem ini memudahkan pembudidaya memanen madu tanpa merusak struktur utama sarang di bawahnya.

Koloni yang sudah teruji dan pernah dipanen madunya. Ia mengibaratkan seperti hewan ternak (sapi) yang sudah pernah melahirkan, koloni pada tahap ini akan jauh lebih stabil dan konsisten untuk dipanen secara berkala. Itu harganya dikisaran Rp800.000– 1.000.000.

Melalui ketekunan dalam menjaga ekosistem dan vegetasi lingkungan di Desa Girimukti, Jaisbee Farm kini tidak sekadar menjadi tempat budidaya madu kelulut lokal, tetapi juga membuktikan bahwa usaha ramah lingkungan berawal dari pekarangan rumah mampu berkembang memberikan nilai tambah secara ekonomi. (*)

Editor : Sukri Sikki
budidaya madu kelulut pandemi Ahmad Jais penajam