PENAJAM – Penyusutan lahan pertanian akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mendorong masyarakat Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), beralih mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming) berbasis hidroponik. Namun, tingginya biaya nutrisi tanaman menjadi tantangan baru yang kini diatasi melalui pendampingan tim dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH-ITB).
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PM) SITH-ITB melatih warga memproduksi Pupuk Organik Cair (POC) dari limbah pertanian dan rumah tangga sebagai alternatif pengganti nutrisi hidroponik berbasis pupuk anorganik komersial.
Ketua tim, Prof. Dr. Erly Marwani, mengatakan selama ini petani hidroponik di Desa Sukaraja masih bergantung pada pupuk komersial yang dibeli di toko pertanian maupun melalui platform perdagangan elektronik. Kondisi tersebut membuat biaya produksi terus meningkat seiring kenaikan harga pupuk.
"Kenaikan harga pupuk komersial yang terus terjadi mengancam keberlangsungan aktivitas pertanian hidroponik di desa tersebut," ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Permasalahan tersebut sebelumnya teridentifikasi melalui platform Desanesha ITB dan komunikasi antara Kepala Desa Sukaraja, Sugiyanto, dengan tim pengabdian masyarakat. Sebagai tindak lanjut, SITH-ITB menggelar pelatihan dan bimbingan teknis pembuatan POC pada 17–18 Juli 2026 di Gedung Serbaguna Desa Sukaraja.
Baca Juga: Pastikan Kelayakan Konsumsi, DLH PPU Siapkan Uji Laboratorium Independen dan Pelajari Treatment Air
Sebanyak 30 peserta mengikuti pelatihan tersebut, terdiri atas kepala desa, perangkat desa, pegiat urban farming, masyarakat, hingga anggota kepolisian.
Selain Prof. Erly Marwani, kegiatan juga melibatkan Prof. Dr. Sri Nanan B. Widiyanto, Dr. Eri Mustari, dan Dr. Dadang Sumardi.
Pada sesi praktik, peserta diajarkan mengolah berbagai bahan baku lokal seperti gedebog pisang, daun pisang, daun kelor, lidah buaya, dan kulit nanas menjadi pupuk organik cair.
"Prosesnya meliputi pencacahan limbah, pembuatan larutan starter, inkubasi, penyaringan, hingga pengemasan dan penyimpanan," jelas Erly.
Selanjutnya, peserta mempraktikkan penggunaan POC sebagai nutrisi hidroponik dengan mencampurkannya bersama larutan AB Mix sebagai pembanding menggunakan komposisi 1:3. Campuran tersebut kemudian diaplikasikan pada instalasi hidroponik yang telah disiapkan di lingkungan gedung desa untuk menanam berbagai bibit sayuran.
Pelatihan ditutup dengan sesi diskusi dan motivasi agar masyarakat mulai memanfaatkan pupuk organik cair sebagai pengganti, baik sebagian maupun seluruhnya, terhadap nutrisi anorganik yang selama ini digunakan.
Menurut Erly, pemanfaatan POC memberikan manfaat dari berbagai aspek. Dari sisi sosial, pelatihan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menerapkan pertanian modern di lahan terbatas. Dari sisi lingkungan, pemanfaatan limbah organik membantu mengurangi sampah pertanian dan rumah tangga.
Sementara dari aspek ekonomi, penggunaan pupuk organik cair diharapkan mampu menekan biaya operasional budidaya hidroponik sekaligus membuka peluang usaha baru melalui produksi dan pemasaran POC di tingkat desa.
"Serta aspek ekonomi yang menekan biaya operasional budidaya hidroponik sekaligus membuka peluang usaha baru melalui produksi dan pemasaran POC skala desa," tegasnya.
Melalui pendampingan tersebut, masyarakat Desa Sukaraja diharapkan mampu membangun sistem pertanian yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara.
Editor : Muhammad Ridhuan