Karhutla Mengancam: ISPA Balita Tembus Ribuan, Diskes PPU Waspadai Peningkatan Kasus

Ahmad Maki • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:31 WIB
Sri Wiyani (IST)

 

 
Sri Wiyani (IST)    

 

KALTIMPOST.ID, PENAJAM - Dinas Kesehatan (Diskes) menaruh perhatian serius terhadap potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Kondisi ini seiring dengan memasuki musim kemarau dan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan penarikan data terbaru hingga 24 Agustus, tercatat sebanyak 2.861 balita di PPU terkonfirmasi mengalami ISPA.

"Sementara itu, pada kelompok usia dewasa, jumlah penderita penyakit saluran pernapasan ini telah menembus angka 4.484 kasus," kata Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Diskes PPU, Sri Wiyani, dikonfirmasi kembali melalui seluler, Minggu (30/8/2026).

Baca Juga: Pemkot Balikpapan Tunggu Lampu Hijau Lokasi Sekolah Rakyat, Pusat Bakal Kucurkan Dana Rp250 Miliar

Secara akumulatif, lanjutnya, total keseluruhan kasus penyakit ini yang tercatat sejak Januari hingga Agustus mencapai 11.412 kasus per kabupaten. Angka tersebut mencakup berbagai kelompok umur. Mulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa, hingga kalangan lanjut usia (lansia).

Kendati menyerang seluruh tingkatan usia, pihak jajaran dinas kesehatan memberikan porsi perhatian dan kewaspadaan ekstra terhadap kelompok pasien usia balita.

Baca Juga: Pemkot Balikpapan Siapkan Lahan 7 Hektare di Kilometer 13 untuk Sekolah Rakyat

Ia menjelaskan alasan utama di balik ketatnya pengawasan pada pasien balita. Menurutnya, infeksi saluran pernapasan pada balita memiliki rentang risiko komplikasi yang jauh lebih berbahaya jika tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

"Yang perlu kita waspadai adalah ISPA pada balita terutama pneumonia, saat ini tercatat sebanyak 65 kasus pneumonia pada balita dari jumlah total 284 kasus " ungkapnya.

Pneumonia atau infeksi paru-paru akut menjadi ancaman nyata yang membayangi para balita, jika gejala ISPA awal seperti batuk dan pilek diabaikan.

Baca Juga: Harga Avtur Melonjak, Penumpang Domestik Bandara Sepinggan Balikpapan Turun 14 Persen  

Karena itu, kesiapsiagaan seluruh unit fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama terus ditingkatkan untuk memantau setiap perkembangan gejala yang dialami oleh masyarakat, khususnya anak-anak usia di bawah lima tahun.

Secara geografis, sebaran kasus penyakit pernapasan ini tidak merata di seluruh wilayah. Berdasarkan pemetaan data Dinkes PPU, wilayah yang mencatatkan akumulasi kasus tertinggi berada di area kerja Puskesmas Penajam dan Puskesmas Petung.

Tingginya angka temuan kasus di dua wilayah puskesmas tersebut selaras dengan kepadatan, serta jumlah populasi penduduk yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan wilayah kerja puskesmas lainnya di PPU.

"Faktor pemicu utama meningkatnya paparan ISPA di tengah masyarakat saat ini sangat erat kaitannya dengan kondisi cuaca di musim kemarau," ulasnya.

Tiadanya curah hujan dalam jangka waktu yang lama menyebabkan partikel debu dan asap melayang bebas di udara.

Sumber paparan asap tersebut sangat beragam, mulai dari aktivitas pembakaran sampah mandiri oleh warga, asap rokok, hingga kabut asap yang dihasilkan dari pembakaran lahan dan kebakaran hutan.

Terkait kondisi kualitas udara, secara pasti, Diskes PPU mengakui bahwa hingga saat ini belum menerima hasil analisis data resmi dari lembaga berwenang.

Meski demikian, secara kasat mata dan tren lapangan, kualitas udara selama musim kemarau dipastikan mengalami penurunan mutu.

"Warga dihimbau untuk menjaga Kesehatan dan imunitas tubuh serta segera memeriksaan diri bila mengalami gangguan pernafasan," pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
kasus dinas kesehatan karhutla ispa