KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Kendati perhelatan Piala Dunia 2026 dengan format baru 48 tim baru saja dimulai, bursa calon juara sudah memanas. Menariknya, empat platform kecerdasan buatan (AI chatbot) paling populer di dunia—ChatGPT, Google Gemini, Claude AI, dan Microsoft Copilot—kompak menunjuk tim yang sama sebagai kandidat terkuat pengangkat trofi emas pada 19 Juli mendatang.
Keempat AI terkemuka tersebut sepakat menjagokan jawara Piala Dunia 2010 sekaligus juara Eropa bertahan, Timnas Spanyol, di posisi teratas dalam model prediksi mereka, mengungguli raksasa lain seperti Prancis dan Argentina.
Berdasarkan data yang dihimpun dari simulasi masing-masing platform, berikut rincian kalkulasi yang menempatkan skuad asuhan Luis de la Fuente tersebut sebagai favorit utama:
ChatGPT: Melansir laporan dari NDTV, chatbot besutan OpenAI ini menegaskan bahwa berdasarkan probabilitas statistik saat ini, konsensus utama menempatkan tim nasional Spanyol sebagai favorit terdepan.
Google Gemini: Melalui perhitungan matematisnya, Gemini menempatkan La Furia Roja di posisi teratas absolut dalam model prediksi. Posisi Spanyol ditempel sangat ketat oleh Prancis yang berada di urutan kedua.
Claude AI: Platform ini menyoroti status Spanyol sebagai juara bertahan Euro serta keberadaan talenta muda sensasional seperti Lamine Yamal. Faktor tersebut dinilai menjadi alasan kuat mengapa model taruhan dunia saat ini lebih condong ke Spanyol, meski format 48 tim menghadirkan ketidakpastian yang tinggi.
Microsoft Copilot: Menyajikan data paling spesifik, Copilot merujuk pada simulasi superkomputer Opta per Juni 2026. Spanyol memimpin bursa dengan persentase peluang juara mencapai 16,1 persen (kisaran pasar taruhan 16-17 persen). Keunggulan ini didasarkan pada kedalaman skuad yang mumpuni serta mentalitas juara turnamen baru-baru ini.
Meski persaingan di atas lapangan hijau masih sangat cair dan belum melakoni laga perdana, data dari superkomputer dan kecerdasan buatan global ini menjadi sinyal kuat bahwa generasi emas baru Spanyol kini menjadi tim yang paling ditakuti di dunia.(*)
Editor : Thomas Priyandoko