KALTIMPOST.ID, Piala Dunia 2026 - Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) bersiap melaporkan FIFA setelah mencuat dugaan campur tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam kasus kartu merah Folarin Balogun pada Piala Dunia 2026. Langkah tersebut diambil karena Norwegia laporkan FIFA dinilai penting untuk menjaga independensi sepak bola dari pengaruh politik.
Kasus ini bermula ketika penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, menerima kartu merah usai insiden dengan bek Bosnia dan Herzegovina, Tarik Muharemovic. Namun, keputusan tersebut kemudian dibatalkan dan memicu polemik setelah beredar informasi bahwa Donald Trump disebut menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Bagi NFF, keputusan itu menjadi perhatian serius. Norwegia laporkan FIFA karena menganggap proses pengambilan keputusan dalam sepak bola harus bebas dari tekanan pihak luar agar kredibilitas kompetisi tetap terjaga.
Baca Juga: SEA V Cup 2026: Reidel Toiran Tak Ubah Starter, Ada Misi Besar saat Indonesia Jumpa Filipina
NFF Nilai Integritas Sepak Bola Harus Dijaga
Presiden NFF, Lise Klaveness, menegaskan bahwa perubahan keputusan tersebut dapat menjadi preseden yang berbahaya bagi dunia sepak bola jika benar dipengaruhi faktor di luar mekanisme yang berlaku.
Dalam wawancaranya dengan The Times, Klaveness mengatakan:
"Ketika Anda membengkokkan aturan seperti ini, Anda sedang berada di jalan yang licin yang bisa membahayakan seluruh permainan," ujarnya, dilansir dari Bola.com, Jumat (24/7/2026).
Menurut Klaveness, FIFA juga perlu memberikan penjelasan terbuka mengenai proses yang terjadi di balik pencabutan kartu merah Balogun.
"Yang terpenting, ini seharusnya tidak terjadi. Sangat penting sekarang untuk ada komunikasi yang jujur mengenai kasus ini. Kita semua tahu keputusan itu dipengaruhi kekuatan dari luar dan tidak melalui proses yang semestinya," katanya.
Ia menilai pengakuan dari FIFA menjadi langkah penting untuk memulihkan kepercayaan terhadap tata kelola sepak bola internasional.
"Kami membutuhkan pemimpin FIFA untuk mengatakan bahwa ini adalah sebuah kekeliruan. Jika organisasi mulai menyesuaikan diri terhadap tekanan para pemimpin negara dan kepentingan politik, maka batas campur tangan pemerintah dalam sepak bola akan semakin kabur. Dan itulah yang terjadi," ujar Klaveness.
Kontroversi semakin berkembang setelah Donald Trump secara terbuka memuji keputusan FIFA yang membatalkan kartu merah Balogun. Trump menyebut keputusan tersebut sebagai pembatalan atas "sebuah ketidakadilan besar".
Pernyataan itu semakin memicu perdebatan karena muncul di tengah isu dugaan adanya komunikasi langsung antara Trump dan Presiden FIFA sebelum keputusan diubah. Hingga kini, isu tersebut terus menjadi perhatian publik sepak bola internasional.
Hubungan Norwegia dan FIFA Memang Sudah Beberapa Kali Memanas
Perselisihan antara NFF dan FIFA bukan kali pertama terjadi selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.
Sebelumnya, federasi sepak bola Norwegia juga mengkritik keputusan FIFA yang memberikan penghargaan perdana Peace Prize kepada Donald Trump. Menurut NFF, langkah tersebut berpotensi mengaburkan prinsip netralitas politik yang selama ini dijunjung dalam sepak bola internasional.
Selain itu, Norwegia juga termasuk federasi yang menolak rencana FIFA memperluas jumlah peserta Piala Dunia menjadi 64 tim. NFF menilai penambahan peserta secara signifikan berisiko menurunkan kualitas kompetisi dan membuat jadwal turnamen semakin padat.
Dengan rencana Norwegia laporkan FIFA, polemik mengenai dugaan campur tangan politik dalam pengambilan keputusan di Piala Dunia 2026 diperkirakan masih akan menjadi perhatian. NFF berharap FIFA memberikan penjelasan yang transparan agar kepercayaan terhadap integritas sepak bola internasional tetap terjaga.***
Editor : Dwi Puspitarini