Barista kafe itu benar-benar cerdik dalam membuat kopi. Suhunya mencapai 90-95 derajat celcius. Ya, itu sama seperti situasi perpolitikan di Kaltim, sedikit panas.
Sebentar lagi, masyarakat akan menggunakan hak pilihnya untuk memilih calon kepala daerah. Di Kaltim, dua pasangan calon sudah tampak memanas.
Mereka adalah Rudy Mas'ud-Seno Aji vs Isran Noor-Hadi Mulyadi. Tapi masih bakal calon, belum pasti karena belum ditetapkan sebagai daftar calon tetap.
Belum sempat saya meminum kopi, tiba-tiba seorang pria berambut putih menyesap kopi. Menikmatinya dengan penuh rasa.
"Mantapnya kopi, sama seperti situasi politik saat ini," ujarnya sembari tertawa.
Kedua lansia itu seperti melepas rindu. Mengenang masa lampau di mana idealisme mereka masih utuh. Ternyata mereka suka diskusi ringan sambil ngopi. Sungguh asyik jika Anda mendengarkan.
Mereka membicarakan proses pemilihan pemimpin. Entah pemilihan ketua RT, wali kota, gubernur, hingga legislatif dan presiden.
Tema dari diskusi ringan itu sepertinya “Apakah kita yang salah dalam pemilihan”.
“Money politik salah satunya,” ucap salah satu dari lansia itu. Kemudian dijawab “Apakah kita yang salah,” sanggahnya.
Money politik memang sulit untuk dibuktikan. Faktornya banyak. Padahal pada momen pemilihan pemimpin, saya yakin sebagian orang paham latar belakang kandidat atau calon.
Mungkin saja, saya atau Anda tahu bagaimana sepak terjangnya, kelakuannya, dan menduga karakternya.
Saya sedikit menerka-nerka, jika calon tersebut terpilih, akan terjadi apa dan risiko yang dialami orang banyak bagaimana, juga manfaatnya untuk daerah bakal seperti apa.
Namun, yang terjadi jika disodori “kopi manis” dari calon, entah jenisnya aren, pandan, cream, atau apa bentuk fasilitasnya, tanpa memilih-memilah terlebih dahulu, langsung tancap gas mencucuk surat suara calon tersebut.
“Nah, itu jangan salahkan mereka yang punya uang banyak. Karena dia mampu membeli, sekaligus mendapatkan suara terbanyak hingga pada akhirnya keluar sebagai pemenang.
Tapi mungkin tidak semua orang menerima kopi manis itu, sebagian saja,” kata pak tua itu.
Setelah menang dengan menghalalkan berbagai cara, mereka yang punya kuasa dan kekuasaan bakal mengatur ini dan itu di daerah atau wilayahnya.
Mungkin ya, mereka bisa mendapatkan kekuasaan, tapi belum negarawan. Kekuasaan yang diraihnya tidak lain karena kita mendukung sekaligus memilihnya.
Meski kita selalu memenuhi kolom komentar di sosial media terkait KKN, atau teriak mengenakan pengeras suara perihal fenomena tersebut, tapi ketika kita tahu praktik itu benar terjadi, kita terdiam.
“Lagi dan lagi, apakah ini salah kita karena terlena dengan ‘kopi manis’ yang berhasil memanjakan lidah kita. Sehingga rasa sengsara ini hingga bertahun-tahun,” begitu pak tua merenungi
Sore itu sungguh singkat. Waktu menunjukkan pukul 17.50 Wita, irama ayat suci Al-Quran terdengar dari berbagai masjid di Kota Tepian.
Sayang, usia yang tak lagi muda memaksa mereka untuk segera pulang. Hasil dari diskusi itu mengantarkan mereka untuk merenung dan mengevaluasi diri.
Idealisme mereka ingin diwujudkan kembali, sama persis ketika mereka memilih pemimpin saat berusia 20 tahun.
“Jangan sembarangan memilih pemimpin. Ayok, kita kembali memilih pemimpin yang benar-benar akan mampu menjadi pemimpin masyarakat. Paling tidak, yang teruji sebagai pemimpin.”
“Kupertegas kembali, apakah kita yang salah, apakah kita yang menyebabkan masalah dan kita bagian dari orang bermasalah. Mudah-mudahan, saya salah menaruh dugaan,” tutupnya. (*)
Editor : Almasrifah