Bahwa sebelumnya, hampir seluruh warga perumahan mengeluhkan mengalami sakit kulit karena menggunakan air dari kolam eks tambang yang dikelola pengembang perumahan.
Warga dengan tegas meminta, agar pemkot bisa memfasilitasi agar pengembang menyediakan air bersih dari perumdam Tirta Kencana.
Asisten II pemkot Samarinda Marnabas Patiroy menjelaskan bahwa dari pertemuan terbaru, pengembang perumahan masih mengajukan untuk melanjutkan pengelolaan air bersih ke warga. Bahwa mereka berkomitmen memenuhi standar, tersebut agar layak digunakan bagi warga.
“Kami beri kesempatan, sambil bertahap untuk membangun jaringan pipa sekunder dari jaringan distribusi utama (JDU) milik perumdam Tirta Kencana di Jalan Nusyirwan Ismail,” ucapnya.
Dia menjelaskan bahwa dari hasil pengecekan air yang dilakukan tim perumdam Tirta Kencana, air dari kolam eks tambang yang didistribusikan, tidak layak dan harus dilakukan melalui perlakuan khusus. Karena sebagaimana keterangan warga, air kolam eks tambang hanya disalurkan ke kolam penampungan dan langsung dialirkan ke rumah warga.
“Kami akan awasi. Kami sudah membentuk tim yang dikoordinir Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim). Nantinya mereka juga harus melaporkan berkala hasil pengolahan air,” jelasnya. “Termasuk untuk harga jual air pun harus minimal setara Perumdam Tirta Kencana sekitar Rp 4.000 per meter kubik,” sambungnya.
Dia pun mendorong agar pengembang perumahan bisa menggunakan air dari perumdam Tirta Kencana yang terjamin kualitas. Namun dengan menyediakan lahan untuk penempatan booster hingga jaringan sekunder, dengan estimasi pembiayaan sekitar Rp 4 miliar, termasuk menyediakan lahan untuk pembangunan booster.
“Ini belum termasuk jaringan dari booster ke rumah-rumah dan meteran berstandar perumdam,” ucapnya.
Dia menilai, ketika perumahan menggunakan air dari perumdam Tirta Kencana maka berpotensi meningkatkan penjualan perumahan. “Ini kesempatang baik. Seharusnya pengembang bisa mempertimbangkan ini,” singkatnya.
Editor : Uways Alqadrie