Insiden tersebut disebabkan hujan deras yang terjadi pada Minggu (30/9) sore. Dampaknya, fasilitas penunjang dan bahan ajar siswa sebagian terendam, serta ratusan siswa di sekolah itu terpaksa dipulangkan.
“Ada 268 murid jenjang kelas 1 sampai 4 dipulangkan. Karena situasinya tidak mendukung. Untuk sementara, peserta didik diarahkan belajar di rumah masing-masing," ujar Nasrullah, guru di sekolah tersebut, Senin (30/9).
Senada, Lurah Lempake Musliadi menyebut, untuk sementara banjir bercampur lumpur yang menerjang sekolah dan sebagian permukiman warga, diduga berasal dari aktifitas pembangunan perumahan baru di wilayah tersebut.
“Aliran air bercampur lumpur dari lokasi itu tidak mampu tertampung, sehingga mengakibatkan banjir,” kata Musliadi.
Butuh waktu cepat untuk membersihkan endapan lumpur tersebut. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Samarinda, Babinsa, dan relawan bergotong-royong membersihkan sekolah tersebut.
"Lumpur cukup tebal di beberapa ruangan serta halaman sekolah. Kami memperkirakan proses pembersihan ini bisa selesai dalam tiga jam,” imbuh Kepala BPBD Samarinda Suwarso.
Suwarso menambahkan, dalam pembersihan ini pihaknya mengerahkan sebuah alat berat dan mobil yang berisi air. Sebab, jik tidak menggunakan alat tersebut, dikhawatirkan pembersihan memakan waktu cukup lama.
Saat dikonfirmasi perihal banjir lumpur yang terus berulang, Suwarso menegaskan dalam waktu dekat pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait, dalam hal ini Balai Wilayah Sungai (BWS) dan Dinas Pekerjaan Umum Samarinda, untuk menormalisasi anak sungai terimbas sedimentasi lumpur.
"Kita akan mengadakan pertemyan dengan warga sekitar. Pertemuan itu akan membicarakan persoalan ini dan tujuannya menemukan solusi jangka panjang," tukasnya.
Editor : Uways Alqadrie