Hal itu kemudian yang memunculkan ide bagi Tirtonegoro Foundation menggelar Nusantara Literary Festival di Mahakam Lampion Garden, Samarinda, Jumat (12/10) malam.
Dalam agenda tersebut, sebanyak 30 peserta hadir dari berbagai kalangan. Mulai dari penggiat literasi, perwakilan forum organisasi hingga masyarakat umum.
Dua tokoh literasi Samarinda memantik seri diskusi malam itu. Yakni, Syafaruddin Pernyata dan Aminudin Rifai, masing-masing memberikan pandangan atas situasi literasi di Kota Tepian dengan tema Arsitektur Samarinda dalam Bingkai Literasi.
Syafruddin Pernyata menceritakan asal-usul karyanya yang berjudul "Samarinda Tempo Dulu". Buku itu, sambung dia, berisi pengalaman dirinya selama di Samarinda. Dia menyebut, keistimewaan dari kota ini adalah toleransi. Keakraban atau kerap di sebut guyub rukun dan damai tergambarkan sejak dulu.
"Meski kita tidak terhubung secara suku, tapi keguyuban tergambarkan. Bahkan sampai saat ini. Lebih tepatnya, tidak terlalu gaya metropolis," ungkapnya.
Dia memberikan contoh, ketika anda bersantai di sebuah warung kopi di Samarinda, kemudian dibandingkan dengan kota lain, percayalah ada perbedaannya.
"Ada perasaan yang nikmat dari kota-kota lainnya di Kaltim. Sebut saja di Balikpapan, ada perbedaan dari Samarinda," tuturnya.
Perjalanan panjang Syafruddin hampir seluruhnya tertulis di buku Samarinda Tempo Dulu. Tak hanya berisikan kata-kata, tapi juga menampilkan visual gambar yang sempat diabadikan oleh penulis sastrawan itu.
Sementara itu, Aminudin Rifai turut memberikan apresiasi atas penyelenggaraan seri diskusi tersebut. Menurutnya, hal yang paling penting saat ini adalah, bagaimana caranya komunitas di sini bisa menciptakan daya tarik minat pembaca.
"Kita perlu ada semacam penarik, yang memungkinan tadinya seseorang tidak ingin membaca kemudian tergoda untuk membaca," imbuh Amin.
Misalnya, di sebuah kamar mandi bisa diberi keterangan jenis warna urine. Secara tidak langsung, orang yang masuk akan membaca dan menambah pengetahuan mereka.
Baca Juga: Leher Hitam Bukan Akibat Mandi Tidak Bersih, Tapi Bisa Jadi Tanda Awal Penyakit Kronis Ini
"Itu bisa diterapkan di berbagai titik. Bisa juga di tempat lain, seperti halte, taman, atau tempat yang sering dikunjungi masyarakat," ujarnya.
Nah, bisa juga jika dikaitkan dengan perkembangan teknologi. Anggap saja, di suatu tempat terdapat barcode yang kemudian akan memberikan keterangan dari tempat tersebut.
"Tempat sejarah mungkin. Atau penjelasan tentang kebutuhan manusia itu sendiri. Bisa juga misalnya pasar pagi, sejarahnya seperti apa dan ada barcode yang tertera di sana. Sehingga ketika masyarakat berkunjung, mereka bisa membaca dan mengetahui sejarah Pasar Pagi," tukasnya.
Editor : Uways Alqadrie