Pasalnya alur sungai ini merupakan pengendali banjir dari Jalan Padat Karya hingga Perum Korpri. Perlunya pembebasan lahan bantaran sungai serta pelebaran lewat program normalisasi untuk mencegah banjir di area hulu.
Kepala UPTD Pemeliharaan Saluran Drainase dan Irigasi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Samarinda, Akhmad Supriyadi menerangkan, setelah rapat bersama, sehari setelah kejadian tanah yang mengembang, Selasa (22/10), pihaknya menurunkan satu unit excavator long arm. Tugasnya membuka alur sungai yang tertutup imbas fenomena alam tersebut.
“Karena pantauan kami, area hulu saluran yakni di perum Korpri, level muka air sungai menjadi tinggi. Berpotensi menyebabkan banjir ketika hujan. Makanya kami ambil langkah cepat,” ucapnya, Senin (28/10).
Dia menjelaskan penanganan di area yang terjadi tanah heaving tidak lama, berkisar dua hari saja, pada Kamis (24/10) pekerjaan selesai dan alat berat kembali dimobilisasi ke area lain. Diakuinya pihaknya berusaha semaksimal mungkin memperlancar aliran air. Sementara sedimentasi hanya dilansir di sisi sungai. “Kami berpesan ke pemilik lahan atau usaha penumpukan pasir yang diduga menjadi penyebab pergeseran tanah, untuk memindahkan sisa sedimentasi, untuk mengurangi beban tanah. Mencegah pergeseran tanah susulan,” jelasnya.
Namun demikian, diakuinya kondisi sungai Loa Bakung khususnya di sisi hilir, tidak maksimal. Banyaknya permukiman bantaran sungai yang masih berdiri bahkan di badan sungai membuat aliran air, lambat mengalir ke sungai Mahakam. “Idealnya dilakukan pelebaran serta pada sisi kiri-kanan dikonstruksi. Termasuk menyiapkan jalan inspeksi untuk perawatan berkala,” ucapnya.
Terkait kebutuhan itu, pihaknya mengaku sempat berbicara dengan pemilik usaha penumpukan pasir. Dia menyebut secara lisan, pengusaha mau saja memberikan sebagian tanahnya untuk pelebaran sungai dan penurapan. “Namun baru sebatas lisan. Kami informasikan juga ke kelurahan agar bisa ditindak lanjuti,” singkatnya.
Dia menambahkan, dengan terbukanya aliran sungai Loa Baku pada sisi hilir yang kerap menjdi bottleneck diharapkan banjir yang kerap terjadi di Jalan Padat Karya dan Perum Korpri, bisa semakin dikendalikan. “Karena selama ini titik permasalahan ada di sisi hilir. Akibat permukiman bantaran sungai,” pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie