Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dua Tugu di Samarinda Telan Anggaran Rp 2,9 Miliar, Ada Landmark Baru di Kota Tepian tapi Ada yang Lebih Penting?

Eko Pralistio • Selasa, 7 Januari 2025 | 18:04 WIB
DUA TUGU: Yang baru saja selesai dibangun di dua titik ruas jalan Samarinda menuai rekasi masyarakat. (FOTO/RAMA)
DUA TUGU: Yang baru saja selesai dibangun di dua titik ruas jalan Samarinda menuai rekasi masyarakat. (FOTO/RAMA)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tugu yang diklaim melambangkan simbol Pesut Mahakam di simpang Mal Lembuswana tengah menjadi topik hangat di masyarakat. Proyek senilai Rp 1,1 miliar ini menuai kontroversi, terutama terkait desainnya yang dinilai tidak sesuai ekspektasi banyak pihak.

Mendengara beragam reaksi publik, Direktur Pusat Studi Perkotaan Planosentris Nusantara, Farid Nurrahman, ikut angkat bicara. Dia menyebut tugu tersebut telah berfungsi sebagai landmark kota Samarinda. Menurut Farid, tugu yang dibangun di tengah kota memiliki fungsi utama sebagai penanda yang menarik perhatian publik.

“Secara tata kota, tidak ada masalah jika tugu itu memang dirancang sebagai landmark yang menarik perhatian masyarakat,” ujarnya, Selasa (7/1).

Farid menjelaskan bahwa kritik muncul karena bentuk tugu tersebut masih baru dan belum familier di mata masyarakat. Namun, ia menegaskan bahwa seni bersifat subjektif, sehingga setiap orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap desainnya.

“Komentar positif maupun negatif adalah bentuk ekspresi. Kita tidak bisa melarang itu. Namun, faktanya, tugu ini telah berhasil menjadi landmark Samarinda karena fungsinya sebagai penanda sudah berjalan,” jelasnya.

Farid juga membandingkan tugu tersebut dengan bangunan lain di kawasan Jembatan Mahakam, Kecamatan Samarinda Seberang, yang jelas menggambarkan ikan pesut dan ombak. Menurutnya, kedua tugu memiliki nilai seni masing-masing meskipun berbeda dalam gaya desain.

“Baik tugu di simpang Mal Lembuswana maupun yang di Samarinda Seberang sama-sama bagus. Perbedaannya hanya pada ekspresi seni dan cara pandang masyarakat terhadapnya,” tutup Farid.

 

Editor : Uways Alqadrie
#pemkot samarinda #Tugu Pesut Samarinda