SAMARINDA – Baru dua bulan berdiri, Tugu Pesut Mahakam di simpang empat Mal Lembuswana sudah harus mendapat perawatan. Bahan daur ulang berbentuk menyerupai pipa yang menjadi konstruksi membentuk siluet tubuh ikan Pesut berwarna Fuschia atau merah perlahan memudar, membuat pelaksana proyek melakukan pengecatan ulang sejak Selasa (11/2) lalu.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan Taman Tugu Parasamya Purnakaryanugraha atau Tugu Pesut dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Samarinda, Uwim Mursalim, membenarkan adanya pemeliharaan tersebut. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari masa pemeliharaan yang masih menjadi tanggung jawab pelaksana proyek. “Semua biaya yang timbul dalam masa pemeliharaan menjadi tanggung jawab pelaksana,” ujarnya.
Pemeliharaan ini dilakukan selama 180 hari sesuai kontrak kerja. Dalam periode ini, pelaksana wajib menjaga kualitas proyek hingga serah terima pekerjaan kedua dilakukan. “Selama masih dalam masa garansi, pemeliharaan tetap menjadi kewajiban pelaksana,” jelasnya.
Uwim bilang, pelaksana proyek mengklaim telah menggunakan cat khusus yang diklaim mampu bertahan hingga lima tahun. Meski demikian, evaluasi tetap dilakukan untuk memastikan kualitasnya. “Kami akan terus memantau dan mengevaluasi kondisi tugu agar tetap sesuai standar,” tegasnya.
Tugu Pesut Mahakam sendiri menjadi ikon baru di Samarinda, namun pemeliharaan yang cepat ini memunculkan pertanyaan mengenai daya tahan material yang digunakan dalam proyek tersebut.
Sebagai informasi, dari keterangan pelaksana tugu sebelumnya, tugu ini dibangun dengan anggaran Rp 1,1 miliar dari APBD 2024 lalu, termasuk pajak. Bentuk tugu yang unik dan ukurannya yang besar membutuhkan perhitungan struktur yang sangat cermat.
Saat pembangunan awal, tugu lama dibongkar kemudian dibuat fondasi baru, karena beban totalnya mencapai 3 ton lebih, sehingga penting memiliki pondasi yang kuat. Dari sisi material, konstruksi utama menggunakan pipa steel 4 inch schedule 40 yang termasuk kualitas tinggi, serta kawat las setara dengan yang digunakan dalam pengelasan kapal, berukuran 52 LB.
Sedangkan material daur ulang dibutuhkan yakni bahan HDPE seberat sekitar 330 kg, dengan warga merah fuschia. Jika dikonversi, bahan tersebut setara dengan 16.500 botol plastik air mineral atau 165.000 sedotan. Proyek ini dibangun di bawah pengawasan Phoenix Ecotech, perusahaan yang berdomisili di Bali.
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : Muhammad Ridhuan