Jembatan Mahakam kian mengkhawatirkan. Bukan karena usianya tak lagi muda, kerap ditabrak menyebabkan faktor kondisi jembatan terancam rusak lebih parah karena ada titik yang bergeser.
SAMARINDA–Fender menjadi salah satu unsur penting untuk melindungi struktur utama pilar jembatan. Kini, pelindung jembatan itu hancur dan tenggelam.
Kerusakan itu akibat dihantam Tongkang Indosukses 28 yang ditarik Tugboat MTS 28 dengan muatan kayu. Kejadian tersebut secara kasatmata menggeser struktur jembatan.
Itu terpantau saat Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Kaltim mengecek jembatan yang dibangun era mendiang Soeharto.
Tepat di atas pilar tiga (P3), ada bergeser sekitar 3 sentimeter. Kemudian cor yang berada di pilar juga mengalami kerusakan. Termasuk besi pembatas merenggang.
Kepala BBPJN Kaltim Hendro Satrio Muhammad Kamaludin mengungkapkan, kekuatan fender jembatan itu sangat kuat. Namun, pihaknya belum mengetahui pasti kronologi kejadiannya. “Fender itu sudah hilang ya karena ditabrak tongkang itu (Indosukses 28),” jelasnya.
Hilangnya fender tersebut jelas mempengaruhi kondisi Jembatan Mahakam. Pasalnya, pilar tiga kerap jadi sasaran dihantam tongkang.
“Ya harus secepatnya dibuat. Itu alasannya kenapa sampai saat ini kapal masih ditahan, perusahaannya harus tanggung jawab,” tegas Hendro.
Senin (17/2) lalu, Satker TP 02 wilayah Samarinda sudah mengecek pilar tiga yang ditabrak. Dari tinjauan itu, dari dokumentasi yang dibagikan, ada keretakan di pilar tersebut.
Sementara itu, ditemui secara terpisah, Kabid Berlayar, Penjagaan dan Patroli Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas I Samarinda Capt Yudi Kusmiyanto menuturkan, pada saat kejadian, seharusnya jika cuaca memang tidak memungkinkan, pengolongan jangan dipaksakan meski waktunya memang masih dalam pemberlakuan. “Nanti kami akan memanggil petugas pandu juga untuk diambil keterangan,” tegasnya.
Terkait permohonan pemindahan muatan kayu, hal itu dijelaskannya agen kapal tersebut rencananya meminta.
“Karena tongkang mengalami kemiringan dan dikhawatirkan menambah masalah. Pemindahan untuk dikirim ke lokasi tersus awal, bukan dilanjutkan, jadi kembali ke Muara Kaman, Kukar,” imbuhnya. Namun, pihaknya belum mendapatkan surat tersebut secara resmi.
Pihaknya juga tengah menunggu hasil investigas lapangan dari tim BBPJN Kaltim. Selain itu, ada rekomendasi penambahan pandu.
“Assist pandu itu bisa diberi sanksi jika memang lalai. Sanksinya bisa skorsing atau pencabutan ijazah,” tambahnya.
Kemarin (18/2), tim teknis dari BBPJN juga sudah melakukan pemeriksaan di Jembatan Mahakam. Pengecekan tersebut diduga kuat untuk melihat kepastian seberapa parah rusaknya jembatan yang menghubungkan sisi Samarinda Seberang dengan Samarinda Kota.
Sebelummya, Hendro Satrio juga sudah cek ke pilar yang dihantam Tongkang Indosukses 28. “Semoga saja enggak ada masalah,” jelasnya.
Sudah puluhan kali ditabrak, Hendro menegaskan, melihat kondisi setiap jembatan ada penilaian khusus, mulai 0–5.
“Kalau nol itu jembatan baru, satu kondisinya baik, dua sedang, tiga dan selanjutnya. Jembatan Mahakam memang berisiko ditabrak kapal atau tongkang. Dilihat dari bentang Sungai Mahakam, kalau bikin jembatan baru tanpa pilar, rasanya butuh biaya yang sangat mahal. Cara yang paling baik adalah memastikan tongkang atau kapal yang lewat harus dipandu dengan baik,” sambungnya.
Namun, instruksi dalam waktu dekat, perusahaan diminta segera membuat fender lagi. “Yang menabrak harus bertanggung jawab. Kalau nanti ada perbaikan dan struktur jembatan, seluruh biaya dibebankan ke penabrak,” tegasnya.
Melihat anggaran sebelumnya pembuatan fender, lanjut dia, membutuhkan biaya hingga Rp 35 miliar untuk dua fender pada 2018. “Karena fender itu mancang hingga ketemu tanah keras, baru atasnya dibeton. Diperkirakan biayanya lebih besar kalau sekarang. Kalau ada struktur jembatan yang rusak itu juga dibebankan ke penabrak,” tegasnya.
Editor : Dwi Restu A