Kejadian itu disebut melibatkan siswi kelas VIII dari SMP Negeri 16 Samarinda dan berlangsung di dalam kelas.
Dalam video berdurasi pendek itu, tampak beberapa siswi saling serang secara fisik. Suasana kelas yang seharusnya jadi tempat belajar berubah jadi arena adu emosi.
Kejadian itu dibenarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Asli Nuryadin, yang langsung bergegar dan memanggil kepala sekolah untuk dimintai keterangan.
“Kejadian bermula dari saling olok-olok di kelas. Bahasannya soal PIP (Program Indonesia Pintar) dan status ekonomi,” jelas Asli saat dikonfirmasi, Jumat (23/5/2025).
Tak hanya pihak sekolah, pada saat kejadian polisi juga turun tangan untuk memediasi. Menurut Asli, persoalan sudah diselesaikan secara kekeluargaan dan situasi kini terkendali.
Asli menegaskan, sebenarnya upaya pencegahan kekerasan di sekolah sudah berjalan. Salah satunya melalui pembentukan sekretariat pengendalian kekerasan dan pendidikan karakter yang rutin diajarkan sejak lama.
“Panitia itu sudah ada di sekolah, dan semua guru juga menerapkannya. Tapi memang tidak bisa guru mengawasi siswa 24 jam. Bisa jadi saat kejadian, guru sedang istirahat. Karena itu, penting kerja sama dengan orang tua,” ujarnya.
Pihaknya kini memberi atensi khusus kepada sekolah tersebut, apalagi sekolah itu direncanakan menjadi salah satu sekolah model di kota itu.
"Penanganan harus lebih spesifik, terutama dalam aspek pembinaan karakter. Apalagi dalam kurikulum baru dengan pendekatan deep learning, 80 persen pendidikan anak bergantung pada keterlibatan keluarga," jelas Asli.
Menurutnya, tujuh kebiasaan yang ditekankan dalam kurikulum ini adalah bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, berinteraksi sosial, belajar, dan tidur tidak larut malam.
"Kita akan optimalisasikan komunikasi dengan keluarga agar anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang positif, baik di sekolah maupun di rumah," pungkasnya.
Editor : Almasrifah