KALTIMPOST.ID, Progres pembangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 50 Samarinda kini mencapai 32 persen per Juni 2025.
Sekolah yang berdiri di Jalan Lobang Tiga, Kelurahan Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang ini diproyeksikan menjadi solusi atas keterbatasan daya tampung di SMPN 16 Samarinda yang kini telah bertransformasi menjadi sekolah terpadu.
Sebelumnya, SMPN 16 memiliki sembilan rombongan belajar (rombel) per angkatan.
Namun, sejak berubah menjadi sekolah terpadu, jumlahnya menyusut drastis menjadi hanya tiga rombel.
Sisa rombel dari kawasan tersebut kini diarahkan ke SMPN 50, yang bahkan disiapkan untuk menampung enam rombel per angkatan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Asli Nuryadin, mengatakan bahwa penerimaan siswa baru di SMPN 50 akan dibuka untuk enam rombel.
Administrasi dan perizinan sudah rampung, tinggal sosialisasi ke masyarakat agar anak-anak mereka bisa daftar di SMP 50.
“Beberapa kelas sudah siap. Bahkan kemarin sudah digunakan untuk ujian,” ujarnya, Minggu (8/6).
Ia juga mengungkapkan, penempatan guru masih dalam tahap komunikasi internal.
Beberapa tenaga pendidik dari sekolah lain, termasuk SMPN 16, bisa saja dialihkan secara bertahap ke SMPN 50.
Meski begitu, ia mengakui masih ada sejumlah keterbatasan sarana di sekolah baru ini.
“Pembangunan tahap kedua sedang berjalan. Kami sudah usulkan tambahan anggaran dalam perubahan APBD, untuk pengadaan perlengkapan sekolah. Untuk meubelair, baik untuk guru maupun siswa, sudah siap. Hanya alat-alat kecil seperti papan tulis dan perangkat pembelajaran interaktif yang masih kurang,” jelasnya.
Pada tahun anggaran sebelumnya, Pemkot menggelontorkan Rp 30 miliar untuk pembangunan dua gedung ruang belajar dan fasilitas utama.
Tahun ini, Rp 23 miliar kembali dialokasikan untuk dua gedung tambahan, meliputi 12 ruang belajar, pagar, drainase, penampungan air, serta lapangan olahraga.
“Lapangan basket kemungkinan ditunda karena melihat prioritas dan cuaca. Fokus saat ini pada pagar dan pengelolaan limbah agar kualitas sekolah tetap terjaga,” singkatnya.
Targetnya, bangunan bisa difungsikan hingga 90 persen pada Agustus mendatang.
Semester ganjil atau tahun ajaran baru ini mungkin masih ada transisi, tapi kegiatan belajar-mengajar tetap dimulai.
Ini penting untuk bisa mendeteksi apa saja kekurangan yang harus segera dilengkapi.
“Sudah siap untuk menerima siswa baru. Meski kondisi belum 100 persen bangunan selesai,” ucapnya.
Dengan ditargetkan rampung 100 persen pada Oktober 2025, SMPN 50 diharapkan menjadi alternatif belajar yang nyaman dan representatif bagi siswa-siswa baru, terutama di kawasan Loa Bakung dan sekitarnya.
“Kami harapkan siswa yang tidak tertampung di SMP 16 bisa memanfaatkan ke sekolah ini. Bahkan fasilitasnya pun akan dibuat layaknya sekolah modern. Menyesuaikan bangunan yang dibuat modern mengusung konsep green building,” pungkasnya.
Editor : Hernawati