KALTIMPOST.ID, SAMARINDA– Wali Kota Samarinda Andi Harun kembali turun ke lapangan meninjau langsung sejumlah proyek penanganan banjir di beberapa titik rawan genangan, Kamis (3/7).
Ia memastikan program normalisasi dan pembangunan drainase berjalan sesuai rencana, meski mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.
Peninjauan dimulai dari kawasan Jalan Padat Karya, Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara. Di lokasi itu, Andi Harun menemukan jalur air yang tertutup bangunan SMK Medika, tepatnya di area lapangan futsal sekolah tersebut.
Andi Harun pun meminta lurah dan camat berkoordinasi dengan pemilik sekolah agar segera membongkar bagian lapangan yang menghalangi saluran air. Di titik ini, ia mengungkap ada satu rumah yang lahannya perlu dibebaskan untuk memperlebar saluran.
“Harus ada komunikasi yang baik. Kalau perlu opsi pembebasan lahan kita bicarakan. Air ini harus punya jalur yang lancar,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti keberadaan kolam eks tambang yang berpotensi meluap dan membahayakan warga. Pemkot akan mengecek status lahan dan meminta BPBD memastikan koordinatnya. Apalagi di dekat kawasan tersebut ada perumahan MBR, yang bisa terancam jika tak segera ditangani.
“Jalan Padat Karya rentan banjir, makanya kami akan meminta DPUPR turut mengecek terkait tata ruang di area eks tambang di bagian atas permukiman warga,” terangnya.
Dari Padat Karya, Andi Harun bergerak ke Jalan Terong 4 RT 37, masih di kelurahan yang sama. Di sana, jalur air sudah dinormalisasi dan rencananya akan dilengkapi turap agar aliran air lancar menuju kolam retensi Bengkuring.
Tak berhenti di situ, peninjauan dilanjutkan ke permukiman Gang Manunggal RT 40 di Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang. Kawasan ini dikenal sebagai langganan banjir hingga se leher orang dewasa karena posisinya lebih rendah dan minim drainase.
Andi Harun memastikan Pemkot akan membangun drainase sepanjang 250 meter tahun ini di Jalan Mugirejo, melintasi depan Gang Manunggal. Program ini diakuinya akan berlanjut tahun depan agar banjir di kawasan itu bisa ditekan. “Kami akui, kemungkinan genangan tetap ada, tapi kita pastikan volumenya jauh berkurang. Targetnya, 2026 kawasan ini bebas banjir,” ungkapnya.
Beberapa pekerjaan jangka pendek juga akan dimulai pekan depan, seperti pembongkaran jembatan penghubung DI Panjaitan-Mugirejo yang terlalu rendah serta penataan pipa PDAM. Proyek peningkatan jalan juga masuk agenda tahun depan.
“Kami meminta tim bina marga DPUPR Samarinda bersama Perumdam Tirta Kencana bisa sinergi, ketika ada perbaikan jalan yang berdampak ke pipa distribusi air bersih, tim perumdam harus tanggap,” tegasnya.
Andi Harun menambahkan, penanganan banjir tak bisa selesai dalam satu tahun anggaran. Ia pun berharap dukungan pemerintah pusat dan provinsi, agar penanganan kawasan rawan banjir di Samarinda bisa tuntas secara menyeluruh dan berkelanjutan.
“Seperti yang sering kami sampaikan perlu anggaran Rp 900 miliar untuk menyelesaikan persoalan banjir. namun karena anggaran terbatas, dilakukan bertahap, serta dukungan dari pemprov dan pemerintah pusat, sangat diperlukan,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Rizki