SAMARINDA–Layanan kesehatan darurat Doctor on Call (DOC) milik Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda semakin menunjukkan peran krusial, khususnya penanganan kondisi medis darurat di tengah masyarakat. Seiring waktu, jumlah panggilan layanan tersebut terus meningkat, menunjukkan bahwa kehadirannya semakin dibutuhkan.
Program DOC awalnya beroperasi di tiga titik pelayanan berdasarkan wilayah kecamatan, yakni Samarinda Kota, Samarinda Seberang, dan Samarinda Utara. Namun, kini hanya tersisa satu titik pelayanan aktif yang tetap siaga menangani berbagai panggilan darurat.
“Sejauh ini ada 11 jenis kegawatdaruratan prioritas yang kami tangani,” ujar Ahli Madya Administrasi Kesehatan pada Seksi Kesehatan Rujukan Dinas Kesehatan Samarinda, Vetrisia, Minggu (20/7).
Jenis kegawatdaruratan tersebut meliputi pendarahan hebat, patah tulang terbuka, hilang kesadaran, sesak napas, sumbatan jalan napas, kejang, kondisi kejiwaan yang gawat, cedera kepala berat, nyeri dada hebat, dehidrasi berat, dan henti napas.
Masyarakat dapat mengakses layanan tersebut dengan menghubungi 119. “Setelah menekan angka 1 untuk menentukan wilayah, dan angka 0 untuk kasus medis gawat darurat, operator akan melakukan triase bersama dokter. Jika dinyatakan gawat, tim akan segera diberangkatkan ke lokasi pasien,” jelasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat tren peningkatan signifikan jumlah laporan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022, tercatat 820 laporan, yang terdiri dari 139 kasus gawat darurat dan 681 non gawat darurat.
Tahun berikutnya pada 2023, jumlah laporan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 1.552 laporan. Dari jumlah tersebut, kasus gawat darurat tercatat sebanyak 174, darurat tidak gawat 215, tidak gawat tidak darurat 1.140, serta 23 kasus meninggal dunia.
Sementara itu, pada 2024, laporan kembali melonjak drastis menjadi 3.164 kasus. Kategori tidak gawat tidak darurat mendominasi dengan 2.748 kasus, disusul darurat tidak gawat sebanyak 360 kasus, gawat darurat 112 kasus, dan 34 kasus meninggal dunia.
"Untuk Januari hingga Juni 2025 saja sudah ada 1.881 laporan yang masuk. Sebagian besar masih didominasi kasus tidak gawat tidak darurat, sebanyak 1.608 laporan," imbuhnya. Sementara itu, kasus darurat tidak gawat berjumlah 182, gawat darurat 77, dan meninggal dunia 14 kasus.
Vetrisia menambahkan, selain personel medis, DOC juga dilengkapi sarana penunjang berupa ambulans dengan fasilitas mini ICCU sesuai standar Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), serta armada motor untuk menjangkau lokasi lebih cepat.
“DOC juga aktif mendukung berbagai kegiatan sebagai tim medis cadangan, baik dalam event resmi maupun nonresmi, serta saat terjadi wabah atau bencana,” kuncinya.
Editor : Dwi Restu A