KALTIMPOST.ID SAMARINDA – Kasus campak mulai dapat perhatian lagi, khususnya di Kaltim. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, dalam beberapa bulan terakhir tercatat peningkatan kasus campak ringan di beberapa kabupaten.
Terutama pada anak di bawah usia lima tahun. Penyakit yang disebabkan virus paramyxovirus ini jika tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan komplikasi serius hingga berpotensi mengancam nyawa.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Infeksi Tropis RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda, dr William Stephenson Tjeng, mengingatkan orang tua untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan vaksin campak tepat waktu.
“Campak di masyarakat lokal biasanya disebut krumut, virus ini sangat menular. Penyebarannya melalui droplet, jadi anak-anak yang berkumpul di sekolah atau taman bermain memiliki risiko tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, campak melewati tiga stadium. Stadium awal ditandai demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah. Stadium kedua muncul ruam kemerahan yang dimulai dari belakang telinga, menyebar ke seluruh tubuh, lalu berubah menjadi coklat kehitaman.
Stadium terakhir adalah fase penyembuhan. Masa inkubasinya rata-rata sampai 7 hari. Meski sebagian besar kasus bisa sembuh dengan perawatan simptomatis, komplikasi serius tetap mengancam.
“Bisa dikatakan berbahaya kalau sudah terjadi komplikasi, komplikasi paling umum adalah diare dan radang paru-paru. Dalam kasus berat, campak bisa memicu radang otak. Ini dapat berpotensi fatal jika tidak ditangani segera,” kata dr. William. Efek jangka panjang juga mungkin muncul, seperti SSPE (subakut sklerosis panencephalitis) yang dapat timbul 5-6 tahun setelah infeksi.
Dokter William menekankan bahwa anak yang belum divaksin memiliki risiko komplikasi lebih tinggi. Efektivitas vaksin MR (Measles-Rubella) dua kali suntik bisa mencapai 95–97 persen. Pemberian vaksin pertama dianjurkan pada usia 9 bulan, diulang pada usia 18 bulan, dan saat anak kelas 1–2 sekolah dasar melalui program imunisasi nasional.
“Jika anak belum divaksin, vaksinasi bisa diberikan sebagai kejar imunisasi. Pemberian ulang harus minimal enam bulan setelah dosis pertama,” katanya.
Vaksinasi tersedia di puskesmas, posyandu, klinik, maupun praktik dokter swasta. Bagi penerima BPJS, vaksinasi bisa diperoleh secara gratis. “Program imunisasi MR sudah masuk ke Program Imunisasi Nasional, sehingga aksesnya cukup luas,” tambah dr. William.
Ia juga mengingatkan, campak tidak memiliki obat antivirus khusus. Penanganan terutama fokus pada gejala dan mencegah komplikasi sekunder. Anak yang mengalami infeksi sekunder, misalnya pneumonia, mungkin membutuhkan antibiotik tambahan.
Virus ini punya potensi penularan yang tinggi, dia menekankan, vaksinasi adalah langkah paling efektif mencegah penyakit ini. “Jangan tunggu anak sakit untuk divaksin. Imunisasi tepat waktu adalah kunci melindungi anak dari campak dan komplikasinya,” ujarnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo