Program ini digelar di SD 008 Samarinda Seberang menyasar siswa sekolah dasar yang umumnya tinggal di kawasan hutan tropis lembap. Kegiatan ini berlangsung selama 10 hari pada pertengahan Agustus lalu.
Program MBG merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat yang dilakukan tim dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Mulawarman.
Tim tersebut terdiri dari Dr Iriyani (dosen gizi), Rahmi Susanti (biostatistik), Dr Riyan Ningsih (kesehatan lingkungan), serta dosen lainnya seperti Rea Ariyanti, Nabila Vebiana Soviadi, dan Nurul Asifah Hafsiyah.
“Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan pangan lokal Kalimantan Timur yang bergizi kepada anak sekolah, sekaligus menanamkan budaya makan sehat sejak dini,” ujar Iriyani yang juga dipercaya koordinator program tersebut.
Anak-anak diperkenalkan dengan berbagai contoh pangan lokal seperti kelor, pisang, singkong, hingga ikan lokal. Bahan-bahan ini diolah menjadi menu sehat dan lezat yang kaya energi, protein, vitamin, dan mineral penting bagi pertumbuhan anak.
Selain aspek gizi, kegiatan ini juga menanamkan budaya makan bersama sebagai media pembelajaran sosial. Anak-anak tidak hanya menikmati hidangan sehat, tapi juga mendapat edukasi tentang manfaat setiap jenis makanan dengan cara kreatif dan menyenangkan. Para guru pun terlibat langsung untuk memperkaya metode pembelajaran di kelas.
Program ini turut melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari pengabdian masyarakat kontekstual, seperti Nurul Fitriani, Melani Putri Hapsari, Annisa Aulia Rahayu, Anisa Aulia Hasmi, Adzra’ Dhiya’ Millati, dan Anna Khoirun Nissa. Kehadiran mereka menjadi penggerak lapangan dalam mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung.
Kepala SD 008 Samarinda Seberang, Husein, menyambut baik program ini. “Edukasi gizi yang diberikan sangat menyenangkan. Anak-anak lebih semangat belajar tentang prinsip Isi Piringku dan pentingnya makan bergizi,” katanya.
Iriyani berharap kegiatan serupa dapat diterapkan di lebih banyak sekolah. “Dengan pendekatan ini, anak-anak dapat mengembangkan kebiasaan makan sehat sejak dini, mengenal pangan lokal, dan memahami nilai sosial dari makan bersama,” ujarnya. Program MBG berbasis pangan lokal dinilai mampu mendukung pembangunan kesehatan generasi muda di Kaltim. (*)