KALTIMPOST.ID-Keterkaitan antara sektor pertanian dan energi baru terbarukan (EBT) menjadi salah satu bahasan dalam Seminar Nasional Energi Baru Terbarukan di Era Net Zero Emission yang digelar Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional bersama PPPSI Kaltim di Gedung Bundar Faperta Unmul, Senin (27/10).
Seminar itu tak sekadar menyoal target bauran energi 23 persen pada 2025, tetapi menyoroti bagaimana energi hijau bisa menopang masa depan petani dan nelayan Indonesia.
Ketua Umum KTNA Nasional Muhammad Yadi Sofyan Noor menegaskan EBT bukan sekadar jargon global, melainkan kebutuhan nyata bagi modernisasi pertanian.
“Sekarang pertanian itu full teknologi. Butuh listrik, butuh internet, butuh sistem cerdas berbasis data. Semua itu tak bisa lepas dari energi,” ujarnya.
Yadi mengingatkan, Indonesia seharusnya tak terburu-buru menjadikan nuklir sebagai pilihan utama dalam bauran energi.
Menurutnya, potensi alam yang melimpah seperti air, angin, matahari, hingga gelombang laut, dimana ini sudah cukup untuk menjadi fondasi kemandirian energi.
“Negara kita ini makmur. Tinggal bagaimana memanfaatkan sumber daya itu secara cerdas dan berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menyinggung bahwa rancangan undang-undang energi baru terbarukan sempat memasukkan nuklir ke dalam kategori EBT.
KTNA menilai, hal itu perlu dikaji ulang karena potensi risikonya terhadap ekosistem pertanian dan perikanan.
“Kami tidak anti nuklir. Tapi belajar dari kejadian seperti Chernobyl atau Fukushima, residu dan dampaknya panjang terhadap lahan dan hasil pangan,” ungkapnya.
Yadi juga menyoroti peran pemerintah daerah dalam membangun visi energi bersih yang sejalan dengan pembangunan pertanian dan perikanan.
Kaltim, katanya, sudah berada di jalur itu. “Kami pilih Kaltim jadi tuan rumah karena daerah ini punya rencana besar pengembangan EBT, apalagi dengan hadirnya IKN yang sebagian sudah menggunakan panel surya,” tambahnya.
Menurutnya, pertanian masa depan tak bisa dilepaskan dari teknologi informasi. Petani muda kini terbiasa menggunakan aplikasi, satelit, dan sensor digital.
“Artinya, energi harus tersedia, stabil, dan ramah lingkungan. EBT bukan pilihan lagi, tapi keharusan,” tegas Yadi. (rd)
DENNY SAPUTRA
@dennysaputra46
Editor : Romdani.