SAMARINDA-Meninggalnya remaja berinisial MR (14) yang diduga dianiaya temannya masih terus diselidiki kepolisian. Untuk memastikan dugaan tersebut, rencananya polisi akan melakukan autopsi jenazah korban.
Hal itu disampaikan Kanit PPA Satreskrim Polresta Samarinda Ipda Okky Surya Yuwita, dan dibenarkan Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun, selaku pihak yang mendampingi korban. Rina membeberkan, sejauh ini sebanyak empat saksi sudah dipanggil.
Mereka di antaranya ayah dan ibunya korban, pamannya dan rekan bermain almarhum korban. "Saksi kuncinya itu adalah teman almarhum," ungkap Rina, Senin (10/11).
Selain itu, Rina bersama tim menyerahkan surat persetujuan dari orang tua untuk autopsi. "Per hari ini Senin (10/11), kami menyerahkan surat tersebut," imbuhnya. Beberapa barang bukti juga sudah diserahkan. "Di antaranya pakaian korban, foto-foto korban sebelum dimandikan," tuturnya.
Terpisah, Kanit PPA Satreskrim Polresta Samarinda Ipda Okky Surya Yuwita, sebelumnya menjelaskan, proses pemeriksaan masih berlangsung. "Kami sedang proses pemeriksaan saksi. Kami nanti juga akan panggil ketua RT-nya dan paman korban yang memandikan jenazah korban," ungkapnya.
Disinggung soal rencana autopsi jenazah, Okky menjelaskan akan dilakukan pembongkaran untuk kepentingan penyelidikan. "Karena belum diketahui apakah meninggal karena perbuatan terlapor (penganiayaan) atau sakit, itu yang nanti dicari tahu dari autopsi," imbuhnya.
MR diduga dianiaya seorang anak kelas VI sekolah dasar (SD), Minggu, 26 Oktober 2025. MR kemudian dikabarkan meninggal dunia pada Senin (27/10) dini hari. Terungkapnya dugaan penganiayaan itu setelah tiga hari pasca-kepergian mendiang MR. Tante dan Sartia, ibu kandung korban, mengecek handphone korban. Saat itu pula dia melihat status WhatsApp rekan korban.
"Tulisannya, saya terima kepergianmu, tapi saya tidak iklhas dengan cara kematianmu. Di situ saya diajak bicara tante saya,” ceritanya.
1 November, keluarga besar Sartia bertemu. “Katanya anak saya meninggal itu karena dianiaya,” tambahnya. Di situ keluarga berebuk. Ada orang tua korban, pelaku, dan keluarga pelaku. Saat pertemuan itu, lanjut Sartia, orang tua pelaku bilang, “Siapa yang tahu anakmu di luar sana kayak apa. Saya langsung marah, dan bilang, Om, jaga mulut ya. Anak saya di sini dikenal baik sama warga,” sebutnya. Anaknya dikenal murah senyum. Ketika disapa orang, selalu jawab dan tersenyum, tidak banyak bicara.
“Kata saksi, anak saya dipukul di kepala sampai bunyi nyaring, lalu ditendang tiga kali di perut. Setelah itu anak saya pulang, sempat baring dan menangis kesakitan,” imbuhnya. (*)
Editor : Dwi Restu A