SAMARINDA - Potensi krisis air bersih melanda Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 58 di Jalan Ery Suparjan, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara. Keterbatasan suplai yang kerap terjadi membuat aktivitas di sekolah formal tersebut terganggu. Menyikapi kondisi itu, tim Perumdam Tirta Kencana turun langsung ke lokasi pada Senin (17/11) untuk mengecek sumber permasalahan dan memberi solusi teknis.
Direktur Teknik Perumdam Tirta Kencana Kaharuddin saat dikonfirmasi Selasa (18/11), menyampaikan bahwa persoalan di wilayah itu sebenarnya telah terpantau sejak awal. Salah satu kendalanya memang berada posisi sekolah berada di ujung pipa distribusi.
“Sejak sekolah rakyat ini berdiri, kami sudah survei. Ini kunjungan kami yang ketiga untuk memberi advis terkait penyediaan air bersih,” ujarnya.
Kaharuddin menjelaskan, suplai air di kawasan tersebut sebelumnya juga terdampak gangguan jaringan dalam dua pekan terakhir. Sejumlah kerusakan pipa besar dan pecahnya jalur Jalan AW Syahranie menyebabkan distribusi tersendat.
“Kami mohon maaf. Dua minggu ini ada pipa 800 di Jalan HM Ardans (ring road) yang bermasalah, lalu jalur Jalan AW Syahrani pecah empat kali. Dampaknya langsung terasa di sini karena posisinya di ujung. Bahkan dalam kondisi normal pun air baru sampai setelah dua sampai tiga hari,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi serupa, Perumdam meminta SRT 58 memaksimalkan penampungan air. Penambahan tandon dinilai penting agar sekolah tetap memiliki cadangan saat aliran utama terganggu. “Kami sarankan tambah tandon beberapa kubik dan memperkuat sistem pemompaan,” sebutnya.
Kaharuddin menerangkan suplai air ke kawasan itu membutuhkan tiga tahap pemompaan, mulai dari IPA Bendang, menuju Jalan Nusyirwan Ismail-Jalan HAM Ardnas, hingga jalur Jalan AW Syahranie. Situasi ini membuat wilayah pelayanan sangat sensitif terhadap gangguan teknis maupun mati listrik. Karena itu, upaya jangka menengah juga disiapkan.
“Kami sedang mengusulkan pembangunan booster di halaman Plenary Hall, GKO. Itu untuk meningkatkan pelayanan, termasuk melayani titik-titik yang selama ini belum terjangkau,” terangnya.
Sebagai langkah cepat, Perumdam menugaskan SRT 58 menunjuk perwakilan sebagai penanggung jawab pelaporan air. Nantinya jika terjadi gangguan, sekolah dapat segera menghubungi kontak resmi untuk mendapatkan bantuan suplai darurat melalui tangki mobil.
“Silakan hubungi contact center kami 24 jam. Kalau ada gangguan, laporkan saja, Insyaallah kami bantu,” tegasnya.
Kaharuddin juga mengingatkan pentingnya budaya menampung air di masyarakat. Menurutnya, kebocoran atau gangguan jaringan tidak bisa diprediksi sehingga rumah tangga maupun fasilitas umum perlu memiliki cadangan yang memadai.
“Penampungan itu wajib. Banyak warga sudah punya tandon, hanya saja belum dioptimalkan. Kalau ini berjalan baik, layanan air di Sekolah Rakyat 58 akan jauh lebih stabil,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan