KALTIMPOST.ID,SAMARINDA-Pemkot Samarinda kembali menegaskan pentingnya transformasi pendidikan berbasis karakter dan literasi. Hal itu mencuat saat SD 007 Kecamatan Samarinda Ulu memaparkan program strategis di hadapan Wali Kota Samarinda Andi Harun, Senin (24/11), di Balai Kota.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda Asli Nuryadin menjelaskan, materi paparan sekolah tersebut menitikberatkan pada penguatan akhlak, adab, dan pembiasaan sosial di samping kemampuan akademik. “Teori itu harus dipraktikkan. Pendidikan bukan hanya skil atau akademisi, tetapi juga soal karakter,” ujarnya, Senin (24/11).
Namun, dia menegaskan bahwa standar tersebut seharusnya berlaku bagi semua kepala sekolah di Samarinda. Sejak awal, Disdikbud sudah meminta setiap sekolah membuat laporan perkembangan berkala, baik fisik maupun nonfisik.
“Misalnya keran air wudu dulu hanya dua, setelah enam bulan jadi empat. Itu fakta. Nonfisiknya juga bisa diukur, seperti peningkatan jumlah siswa yang rutin salat duha atau yang semula belum bisa mengaji lalu meningkat kemampuan membaca Al-Qur’an, begitu pula sekolah non-muslim, indikator pembinaan karakter dan spiritual tetap harus dibuat,” jelasnya.
Saat ditanya kekurangan yang selama ini masih terlihat di sekolah-sekolah, Asli menyebut bukan hanya menyangkut SD 007, tetapi hampir seluruh SD di Samarinda. Dia menilai tantangan terbesar bukan pada sarana, melainkan etos kerja dan kualitas SDM. Guru disebut sebagai panutan sehingga teladan perilaku jauh lebih bermakna ketimbang instruksi.
“Kalau kita suruh anak disiplin, kita harus disiplin. Kalau ingin anak gemar membaca, gurunya harus membaca dulu. Tapi dengan niat untuk memperbaiki, itu sudah luar biasa. Kuncinya kolaborasi,” tegasnya.
Disdikbud menyebut, banyak sekolah yang sarana-prasarananya sederhana tetapi menghasilkan siswa-siswi hebat karena guru-gurunya hebat.
Terkait pola pembelajaran, Asli menegaskan bahwa generasi saat ini tidak bisa lagi disamakan dengan pola klasik masa lalu. Kemajuan teknologi membentuk siswa dengan karakter ingin belajar cepat dan menyenangkan. Guru harus mampu beradaptasi agar proses belajar tidak monoton. “Kalau terlalu lama ceramah, siswa pasti bosan. Sama seperti kita membaca berita, orang tidak mau baca yang terlalu panjang. Poin-poin penting saja. Pola pembelajaran juga begitu,” kata Asli.
Disdikbud menekankan bahwa digitalisasi sudah menjadi garis dasar pendidikan masa kini, sehingga guru dituntut bertransformasi, bukan bertahan dengan metode lama. “Guru yang hebat adalah guru yang bisa menginspirasi,” tutupnya. (*)
Editor : Dwi Restu A