KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Langkah bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) untuk mengendalikan banjir kembali dipertegas.
Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) bersama OPD terkait meninjau sejumlah titik, tepatnya ke hulu aliran Sungai Karang Mumus (SKM) di Desa Tanah Datar dan Desa Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kukar.
Hasil peninjauan menguatkan bahwa sebagian besar aliran air yang membebani kawasan Samarinda Utara berasal dari wilayah Kukar.
Ketua TWAP Samarinda Saparuddin mengatakan, peninjauan itu merupakan tindak lanjut kesepakatan awal antara wali kota Samarinda dan bupati Kutai Kartanegara. Sebelumnya kedua kepala daerah menyetujui kerja sama penanganan banjir di daerah perbatasan, yang saling terhubung secara tata air (hidrologis).
“Sebagian besar banjir di wilayah utara Samarinda itu memang bersumber dari Sungai Bawang dan wilayah Muara Badak. Alur sungainya itu masuk ke Sungai Karang Mumus,” jelas Saparuddin, Rabu (26/11).
Air dari kawasan Badak Mekar, Sungai Bawang, hingga jalur Muara Badak semuanya bermuara ke SKM dengan volume cukup besar. Aliran serupa juga datang dari Sungai Lantung, yang hulunya masuk wilayah konsesi Lana Harita. “Air itu masuk dari berbagai arah, dari Tanah Datar, Badak Mekar, Sungai Lantung. Semua berkontribusi besar menuju SKM, lalu mengisi Waduk Benanga dan terus turun ke hilir Samarinda,” terangnya.
Dalam peninjauan yang diikuti PUPR Kukar, PUPR Samarinda, dan Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Kalimantan, menghasilkan titik potensi pembangunan kolam retensi. Lokasi yang dinilai memungkinkan berada di sekitar kawasan Tanah Datar, tepatnya di wilayah Kukar.
“Kami berharap ada kolam retensi di hulu wilayah Kukar untuk menahan air ketika hujan deras. Jadi aliran ke Samarinda bisa diatur waktunya,” ucapnya.
Selain Tanah Datar, tim juga sepakat meninjau Loa Janan, Kilometer 8, dalam waktu dekat. Di sana terdapat kolam retensi milik Pemprov Kaltim yang dinilai perlu direvitalisasi. Lokasi itu juga menjadi hulu aliran banjir yang kerap membebani permukiman Tani Aman, Loa Janan Ilir, hingga kawasan Borneo, Gang Haji Saleh.
“Jika memungkinkan, kolam retensi tambahan juga penting dibuat di sisi kiri Jalan Samarinda-Bontang, Km 8,” tambahnya.
Mengenai bentuk kerja sama konkret antara dua daerah, Saparuddin menyebut pola pengerjaan akan dilakukan sesuai kewenangan masing-masing. Kukar menangani wilayahnya, sementara Samarinda mengerjakan bagian Samarinda. Namun, karena lintas kabupaten–kota, diperlukan pertemuan resmi yang difasilitasi Pemprov Kaltim.
“Harapan kami setelah peninjauan kedua nanti, ada pertemuan besar yang melibatkan PUPR provinsi, Pemkab Kukar, Pemkot Samarinda, dan BWS. Di situ kesepakatan teknis akan dimatangkan,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A