KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Seorang pekerja terlihat sibuk mencuci motor di atas jembatan kayu yang membentang tepat di atas drainase Jalan Banggeris, Kelurahan Teluk Lerong Ulu, Selasa (2/12).
Di sisi kananya, hanya berjarak beberapa meter, tim UPTD Pemeliharaan Drainase dan Irigasi DPUPR Samarinda berjibaku membongkar jembatan, mengeruk lumpur dan mengangkat tumpukan sedimentasi.
Kondisi ini, kontras mencolok, karena di satu sisi melakukan aktivitas harian yang berpotensi menambah endapan, sementara sisi lain berusaha keras menormalkan aliran air untuk mencegah banjir.
Kondisi lapangan seperti ini bukan hal baru. Pembiaran terhadap aktivitas usaha kecil di atas saluran membuat pekerjaan perawatan drainase tidak pernah tuntas.
Dari pantauan media, sedimentasi yang jatuh langsung ke drainase membuat saluran cepat dangkal. Kalau dibiarkan, aliran akan tersumbat dan rawan meluap.
Mandor UPTD Drainase–Irigasi DPUPR Samarinda, Misikan, menjelaskan pembersihan di Banggeris sudah berlangsung selama tiga hari dan masih akan berlanjut hingga satu minggu ke depan. Pekerjaan dimulai dari simpang Jalan Cendana hingga mendekati Kampus Unmul.
Jalur ini memegang peran penting karena menjadi aliran buangan dari kawasan Jalan P. Suryanata menuju Polder Gang Indra, kemudian dipompa ke drainase Banggeris dan bermuara ke Sungai Manggis sebelum akhirnya masuk ke Sungai Mahakam.
“Saluran di sini lebarnya sekitar satu meter dengan kedalaman serupa. Ukurannya sebenarnya ideal, tapi kondisi lapangan sering tak mendukung. Ada jembatan warga yang harus dibongkar sementara, tetapi beberapa menolak,” ujar Misikan.
Penolakan ini membuat pekerjaan terhenti di titik tertentu karena alat tidak bisa masuk untuk mengeruk sedimen yang menumpuk. “Kondisi sedimentasi juga cukup tebal, sekitar 60 cm,” terangnya.
Selain sedimen yang menebal, tumpukan sampah juga menjadi momok utama. Persimpangan Jalan Banggeris-Cendana disebut sebagai salah satu titik paling berat. “Kalau hujan bersamaan pasang sungai, sampah menyangkut di situ, dan air pasti meluber ke jalan bahkan ke rumah warga,” jelasnya.
Kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa pemeliharaan teknis saja tidak cukup. Aktivitas warga, seperti usaha cuci motor di atas jembatan, jelas berkontribusi terhadap percepatan pendangkalan drainase. Apalagi material lumpur, minyak, dan sisa cuci kendaraan langsung jatuh ke aliran.
“Kami hanya menjalankan tugas melakukan pembersihan rutin. Ketika ada kendala, kami koordinasi ke ketua RT hingga kelurahan setempat,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo