SAMARINDA - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Samarinda menunjukkan tren membaik. Berdasarkan data terbaru, pada 2024 TPT tercatat 5,75 persen, terdiri dari laki-laki 5,01 persen dan perempuan 6,97 persen. Sementara proyeksi 2025 diperkirakan turun menjadi 5,57 persen, dengan TPT laki-laki 4,85 persen dan perempuan 6,75 persen.
Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) menyebut penurunan ini tidak datang tiba-tiba, melainkan hasil intervensi pelatihan, kemitraan, dan perluasan kesempatan kerja yang terus digarap selama dua tahun terakhir.
Kepala Disnaker Samarinda Yuyum Puspitaningrum mengatakan strategi utama pihaknya mengacu pada Rencana Tenaga Kerja Daerah (RTKD) yang salah satu tujuannya menekan TPT. “Upaya kita banyak. Ada program pelatihan yang cukup besar, bekerja sama dengan BPVP Samarinda dan Disnakertrans Kaltim,” ujarnya, dikonfirmasi, Rabu (3/12).
Selain pelatihan teknis, beberapa program lintas perangkat daerah juga diarahkan untuk menjaga kualitas dan kuantitas angkatan kerja, termasuk urban farming dari Dinas Ketahanan Pangan dan program peningkatan pendidikan.
Yuyum menyebut TPT Samarinda pada 2024 didominasi lulusan SMA. Karena itu, strategi yang dipilih adalah upskilling. “Kita dorong mereka ikut pelatihan yang dikerjakan Disnaker melalui BPVP. Jadi kompetensinya naik, bukan stagnan,” katanya.
Yuyum menjelaskan, kebijakan penempatan kerja tidak berhenti pada penerbitan AK1. Ada pembinaan lembaga pelatihan kerja, kerja sama dengan dunia usaha dan industri, pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja, hingga peningkatan level instruktur. “Kita juga minta perusahaan membuka peluang K3 umum. Itu sudah berjalan,” katanya.
Disnaker juga menyiapkan integrasi data BUMRT sebagai basis informasi tenaga kerja. Penempatan tenaga kerja difokuskan pada optimalisasi jalur formal seperti job fair dan platform nasional MagangHub yang kini memasuki batch ketiga.
Kolaborasi tidak hanya dengan BPVP, tetapi juga dengan perangkat daerah lain seperti PUPR yang memiliki program sertifikasi konstruksi, mulai pertukangan, pengecatan, hingga pembangunan. “Sekarang bekerja harus disertai sertifikat. Ini peluang besar bagi warga,” terang Yuyum.
Ke depan, Disnaker menekankan penguatan pelatihan, bursa kerja khusus di universitas, lembaga pendidikan, pesantren, dan SMK. Tujuannya sederhana, lulusan siap kerja begitu menamatkan pendidikan. “Kami akan terus menginformasikan kebutuhan industri dan membuka akses seluas mungkin kepada pencari kerja,” ucapnya.
Yuyum berharap rangkaian program ini memberi dampak nyata pada TPT tahun 2026. Pihaknya juga membuka peluang, untuk minta masukan dari masyarakat yang belum bekerja, apa minatnya, pelatihan apa yang dibutuhkan. “Kami akan siapkan programnya, lewat sinergi APBD, BPVP, dan dunia usaha dapat membentuk tenaga kerja Samarinda yang lebih kompetitif,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan