KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Setiap pagi di Samarinda Seberang, aroma rempah dan kuah hangat perlahan terasa. Di balik pintu-pintu dapur berkelir putih itu, puluhan orang bekerja nyaris tanpa henti demi satu tujuan, yakni memastikan ribuan ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG) tiba ke tangan siswa sekolah.
Program MBG mulai berjalan di wilayah ini sejak 10 Juni 2025. Selain menyediakan makanan bagi anak sekolah, program ini diam-diam membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar. “Ada dampak positif untuk masyarakat, terutama dari sisi ekonomi,” kata Andri Rifandi, Sekretaris Yayasan EAYE sekaligus PIC Yayasan SPPG Samarinda Seberang–Baqa, Kamis (4/12).
Andri menyebut, saat ini yayasan sudah memiliki tujuh dapur yang mengantongi izin Badan Gizi Nasional (BGN). Satu dapur berada di Kelurahan Baqa (Samarinda Seberang), dua di Loa Janan Ilir, tiga di Sungai Kunjang, dan satu di Palaran.
Namun dari tujuh dapur tersebut, baru dua yang sudah benar-benar berjalan. “Lima lainnya insyaallah mulai beroperasi bulan ini,” ujar Andri.
Dua dapur yang aktif itu memproduksi ribuan porsi setiap hari. Dapur Loa Janan Ilir menyiapkan 3.560 porsi, sementara dapur Baqa menghasilkan 3.432 porsi.
Nah, di kedua dapur tersebut, sekitar 60 relawan terlibat. Mayoritas 80 persen adalah warga yang tinggal di sekitar dapur. Hanya posisi koki yang harus diisi dari luar, sebab belum ada warga setempat yang memiliki sertifikat memasak standar program.
“Koki memang harus bersertifikat, jadi kami mencari dari luar. Tapi mereka tetap tinggal di wilayah Samarinda Seberang,” kata Andri.
Di balik suksesnya distribusi MBG ke sekolah-sekolah, banyak peran yang saling terhubung. Mereka disebut relawan, yang memiliki beragam tugas.
Mulai dari tim persiapan bahan, produksi yang memasak, pemorsian dan pemaketan, driver dan asisten driver, tim pencuci ompreng hingga ada juga asisten lapangan yang berkoordinasi dengan sekolah penerima manfaat. Serta divisi keamananan dan kebersihan (cleaning service).
Dari sisi kesejahteraan, upah para pekerja alias relawan bervariasi. Koki, kepala divisi, dan asisten lapangan digaji di atas UMK. Sementara posisi terendah seperti asisten driver dan petugas kebersihan menerima sekitar Rp 2,8 juta per bulan.
Sistem gaji dihitung harian. Andri memberikan contoh simulasi, misalmya satu orang dibayar Rp 120 ribu per hari tetapi pembayaran dilakukan bulanan. Besaran bulanan itu variatif dan tergantung relawan atau pekerja yang hadir ke dapur.
Begitu pun ham kerja setiap divisi sudah diatur. Tim pencuci ompreng, misalnya, mulai masuk pukul 13.00 Wita dan bisa selesai pukul 18.00 Wita atau lebih jika ada kekurangan personel.
“Kalau ada satu orang izin, biasanya yang lain jadi agak kewalahan dan selesai lebih malam,” tutur Andri.
Meski dapur berjalan stabil, persoalan bahan baku terkadang muncul. Ada pemasok yang sebelumnya bekerja sama tetapi tidak selalu bisa memenuhi jumlah yang diminta. “Contoh ikan patin, kadang tidak ready sebanyak yang kita butuhkan,” ujarnya.
Namun dari sisi pengelolaan SDM, Andri menyebut semuanya masih kondusif. “Secara teknis aman, hanya koordinasi yang terus kami tingkatkan. SOP dari BGN tetap kami jalankan,” ujarnya.
Koordinasi dengan BGN juga berlangsung lancar, baik terkait pelatihan maupun dana operasional. Pertemuan rutin digelar secara daring. “Kemarin baru sosialisasi distributor susu. BGN sudah menunjuk dan memastikan kualitas serta harga sesuai ketentuan gizi,” kata Andri.
Di balik ribuan ompreng yang dibawa ke sekolah-sekolah setiap pagi, ada kerja kolektif dari warga yang kini punya harapan baru. MBG bukan hanya soal makan bergizi, tetapi juga tentang bagaimana sebuah dapur bisa menjadi pusat penghidupan bagi banyak orang. (*)
Editor : Sukri Sikki