Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dari Gasing, Egrang, sampai Bakiak, 488 Siswa SD di Samarinda Ikut Arena Permainan Rakyat

Nasya Rahaya • Kamis, 11 Desember 2025 | 17:17 WIB

 

ANTUSIAS: Ratusan siswa SD dari 49 sekolah di Samarinda antusias berlomba dalam permainan tradisional seperti gasing, egrang, dan bakiak pada Arena Permainan Rakyat di GOR Kadrie Oening, Kamis (11/12)
ANTUSIAS: Ratusan siswa SD dari 49 sekolah di Samarinda antusias berlomba dalam permainan tradisional seperti gasing, egrang, dan bakiak pada Arena Permainan Rakyat di GOR Kadrie Oening, Kamis (11/12)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Putaran gasing, dentuman balok, dan langkah serempak tim bakiak mewarnai GOR Kadrie Oening sepanjang 11–13 Desember. Sebanyak 488 siswa dari 49 sekolah di Samarinda turun gelanggang dalam Arena Permainan Rakyat, kegiatan kebudayaan yang diinisiasi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Kaltimtara.

Tak hanya siswa, 91 guru pendamping dan sejumlah komunitas budaya ikut terlibat. Selain lomba permainan rakyat, kegiatan ini juga menampilkan peragaan budaya sebagai bagian dari upaya mengenalkan kembali warisan leluhur kepada generasi muda.

Kepala BPK Kaltimtara Lestari, menegaskan bahwa permainan rakyat bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi sarat nilai budaya yang harus diwariskan. “Tujuannya bukan hanya mengajak anak-anak memainkan permainan warisan leluhur, tetapi memastikan nilai-nilai budaya itu tetap hidup,” ujarnya.

Menurut dia, permainan tradisional seperti bakiak, egrang, dan lari balok memuat nilai kebersamaan, strategi, ketangkasan, dan sportivitas yang tidak ditemukan pada permainan digital. Karena itu, kegiatan pelestarian budaya dinilai sebagai investasi jangka panjang.

“Kita tidak bisa berharap anak-anak langsung berubah menjadi pribadi berkarakter hanya dari satu kegiatan. Tapi dua puluh tahun lagi, nilai yang mereka pelajari dari permainan tradisional inilah yang membentuk mereka menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan menjaga warisan budaya,” jelasnya.

Selama tiga hari, ratusan siswa memperagakan kemampuan terbaik pada empat lomba utama yakni gasing, bakiak, lari balok, dan egrang. Suasana riuh sorak pendukung menjadikan GOR Kadrie Oening seperti arena festival budaya sekolah se-Kota Tepian.

BPK Kaltimtara berharap arena ini menjadi momentum agar sekolah kembali memberi ruang pada permainan rakyat. “Kalau tidak dikenalkan sekarang, lima sampai sepuluh tahun lagi anak-anak mungkin tidak lagi tahu apa itu egrang atau bakiak,” tutupnya. (*)

 

Editor : Ismet Rifani
#Balai Pelestarian Kebudayaan Kaltimtara #Festival Budaya Sekolah Kota Tepian #Arena Permainan Rakyat #Kepala BPK Kaltimtara Lestari