Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Warga Rapak Binuang Keluhkan Banjir Kian Parah Dampak Pematangan Lahan RSUD AMS II

Denny Saputra • Rabu, 17 Desember 2025 | 17:31 WIB
KORBAN: Kamaludin (kanan) menyampaikan keluhan dampak banjir diduga akibat pematangan lahan perluasan RSUD AMS II, di sela penghentian aktivitas oleh tim Pemkot Samarinda, Rabu (17/12).
KORBAN: Kamaludin (kanan) menyampaikan keluhan dampak banjir diduga akibat pematangan lahan perluasan RSUD AMS II, di sela penghentian aktivitas oleh tim Pemkot Samarinda, Rabu (17/12).

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA- Proyek pematangan lahan perluasan RSUD Aji Muhammad Salehuddin II (AMS) di depan GOR Kadrie Oening Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara kian berkelindan persoalan. Meski telah mengantongi izin lingkungan, penerbitan UKL-UPL proyek tersebut diduga tidak sesuai SOP. Dampaknya mulai dirasakan warga di wilayah hilir saluran, yang mengalami banjir lebih parah sejak aktivitas pengurukan berjalan.

Salah satu perwakilan warga, Ketua RT 27 Perumahan Rapak Binuang, Kelurahan Sempaja Selatan, Kamaludin, mengatakan kawasan simpang Sempaja sejak awal merupakan daerah rawan banjir. Namun kondisi kian memburuk setelah proyek pematangan lahan dilakukan.

“Dulu ketinggian air hanya sampai lutut, sekarang bisa sampai pinggang dan masuk ke dalam rumah. Warga sudah tidak bisa melakukan apa-apa saat banjir,” ujarnya.

Ia menyebut, banyak warga terpaksa membuang perabot rumah tangga karena rusak terendam air. Menurutnya, hilangnya fungsi resapan air menjadi penyebab utama banjir semakin tinggi dan lama surut. “Ini bukan sekadar kekhawatiran, tapi dampak nyata. Sekarang tidak ada lagi resapan, tidak ada air yang sempat mengendap sebelum masuk ke sungai,” katanya.

Kamaludin menjelaskan, aliran air yang masuk ke Rapak Binuang berasal dari sejumlah kawasan hulu, seperti Batu Besaung, Batu Cermin, Jalan Wahid Hasyim, Jalan AWS, hingga Jalan Perjuangan. Seluruh debit air tersebut bermuara di Rapak Binuang yang merupakan wilayah cekungan, dan berakhir di Sungai Karang Mumus. “Sungai ini sudah tidak mampu menampung. Kalau tidak dibuat sodetan, banjir pasti berulang,” jelasnya.

Ia mendorong pemerintah meninjau opsi pembangunan sodetan, salah satunya ke arah Bengkuring atau langsung tembus ke Sungai Karang Mumus (SKM), guna membagi debit air. “Saya minta proyek (perluasan RSUD AMS II) ini hendtikan dulu. Jangan sampai air dari atas semuanya ditumpahkan ke sini,” tegasnya.

Warga juga mencatat perubahan signifikan pascaberjalannya proyek. Setelah hampir dua tahun relatif bebas banjir, genangan kembali terjadi dengan kondisi lebih parah. Endapan lumpur yang masuk ke rumah warga pun meningkat, dari sebelumnya sekitar satu sentimeter kini mencapai dua hingga tiga sentimeter. “Durasi banjir bisa 14 sampai 18 jam, bahkan dua hari kalau air laut sedang tinggi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Asisten II Pemkot Samarinda Marnabas Patiroy mengungkapkan, penolakan datang dari warga RT 14, 24, 26, 27, dan 28 Perumahan Rapak Binuang, serta RT 29 dan 30 Pondok Surya Indah, Kelurahan Sempaja Selatan. “Pembangunan tidak boleh mengorbankan keamanan dan kepentingan masyarakat,” kuncinya, ditemui usai pemasangan plang penghentian pekerjaan proyek pematangan lahan RSUD AMS II, Rabu (17/12). (*)

Editor : Ismet Rifani
#Perluasan RSUD Aji Muhammad Salehuddin II #protes warga #Marnabas Patiroy