KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pembangunan dan instalasi unit mesin insinerator di Kota Samarinda terus berlanjut. Dari total sepuluh unit insinerator yang tersebar di sembilan titik, sebanyak tujuh unit telah rampung 100 persen, sementara tiga titik lainnya masih dalam proses penyelesaian dengan progres mencapai 60-70 persen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan keterlambatan pembangunan di tiga titik tersebut disebabkan oleh kendala nonteknis dan teknis yang kini telah tertangani.
“Tiga titik yang sempat mengalami kelambatan berada di Kelurahan Baqa, Handil Bakti, dan Tani Aman. Untuk Baqa dan Handil Bakti kendalanya pada lahan, sedangkan di Tani Aman terkait infrastruktur pendukung seperti jalan, ketersediaan air, dan jaringan listrik,” ujar Suwarso, Jumat (9/1/2026).
Persoalan pembebasan lahan di Kelurahan Baqa dan Handil Bakti saat ini sudah tuntas dan tidak lagi menjadi hambatan. Keterlambatan sebelumnya terjadi karena adanya penyesuaian lokasi serta komunikasi dengan lingkungan sekitar agar kehadiran insinerator tidak menimbulkan persoalan sosial maupun lingkungan.
“Sekarang lahannya sudah aman semua. Tidak ada masalah lagi. Kita ingin kehadiran insinerator ini clear, baik dari isu lingkungan maupun sosial,” jelasnya.
Sementara itu, kendala di Kelurahan Tani Aman lebih kepada kebutuhan infrastruktur tambahan yang menjadi satu paket kegiatan pembangunan insinerator. Meski demikian, Suwarso optimistis seluruh unit dapat segera diselesaikan.
Seiring dengan hampir rampungnya pembangunan fisik, DLH Kota Samarinda mulai memfokuskan perhatian pada kesiapan sumber daya manusia. Pada Jumat (9/1/2026), DLH menggelar pelatihan teknis operasional mesin insinerator bagi calon tenaga operator. “Pelatihan hari ini difokuskan pada teknis operasional, tata cara pemeliharaan, serta keselamatan kerja bagi tenaga operator,” ungkapnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga dibekali pemahaman terkait bahan pemicu pembakaran, seperti kayu dan kertas yang telah dibakar, sebagai bagian dari proses operasional insinerator.
DLH juga meminta pihak vendor untuk melakukan pendampingan lanjutan mengingat mesin insinerator merupakan unit baru dengan suhu operasional yang tinggi, mencapai 800 hingga 1.000 derajat Celsius. “Keselamatan kerja dan penggunaan alat pelindung diri menjadi perhatian khusus. Ini tidak bisa main-main,” tegasnya.
Pelatihan dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, sebanyak 24 peserta mengikuti pelatihan dari total kebutuhan sekitar 72 tenaga operator. DLH berencana membuka kembali rekrutmen tahap kedua untuk memenuhi kekurangan 48 tenaga kerja.
“Seleksinya memang cukup ketat karena lingkungan kerjanya berisiko tinggi. Jadi knowledge dan skill-nya harus benar-benar kuat,” katanya.
Pelatihan dilaksanakan selama satu hari, dengan metode teori yang dilanjutkan praktik langsung di lapangan. Jika diperlukan, durasi pelatihan dapat diperpanjang hingga dua hari agar pengoperasian mesin benar-benar aman dan optimal. Untuk praktik lapangan, DLH memilih insinerator di kawasan Polder Air Hitam yang telah dinyatakan siap.
DLH memastikan kebutuhan gaji tenaga operator telah diusulkan sejak awal dan mendapat persetujuan Wali Kota Samarinda. Pengelolaan tenaga operator akan dilakukan secara swakelola tipe I oleh DLH untuk mempermudah proses administrasi dan pencairan gaji.
“Untuk gaji tenaga operator sesuai standar yang tentukan Pemkot. Untuk Rekrutmen masih berjalan, ini baru tahap pertama, nanti akan kita lanjutkan tahap kedua untuk memenuhi kebutuhan operator insinerator,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki