KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Rencana kerja sama pengelolaan sampah ramah lingkungan ditawarkan PT Kimia Alam Subur (KAS), melalui teknologi pirolisis berbasis produk. Namun, wali kota Samarinda meminta agar rencana tersebut dikaji lebih mendalam dan dijelaskan secara detail sebelum memasuki tahap kerja sama.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Suwarso mengatakan, kehadiran investor disambut positif, namun masih terdapat sejumlah catatan penting yang harus dijawab pemrakarsa.
“Pak wali menyambut baik, tetapi ada banyak hal yang perlu dijelaskan lebih detail PT KAS, karena itu menyangkut kerja sama jangka panjang,” ujarnya, Rabu (21/1).
Sejumlah aspek teknis menjadi perhatian utama wali kota, di antaranya kapasitas mesin, jam operasional reaktor, serta standar emisi yang digunakan. Selain itu, pemkot juga meminta kejelasan terkait standar operasional prosedur (SOP) apabila terjadi kondisi kedaruratan.
“Pak wali juga menanyakan apakah emisi pirolisis lebih rendah dibandingkan insinerator, termasuk simulasi dan pengelolaan diversifikasi emisinya. Tata kelola limbah cairnya bagaimana, itu semua diminta penjelasan,” ungkapnya.
Dari sisi pola kerja sama, Suwarso menyebutkan bahwa PT KAS menawarkan skema investasi murni swasta tanpa tipping fee, sehingga tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Samarinda. Pemkot hanya diminta menyiapkan lahan seluas 2 hektare di kawasan tempat pembuangan akhir (TPA), dengan kebutuhan suplai sampah sekitar 500 ton per hari.
“Pengangkutan sampah tetap menjadi kewajiban DLH ke TPA karena pengolahannya dilakukan di lokasi TPA. Selain itu, investor juga wajib menyusun AMDAL yang langsung dari kementerian,” jelasnya.
Dalam paparan tersebut, juga disampaikan potensi waste to product. Namun, porsi yang ditawarkan kepada Pemkot Samarinda sebesar 2,5 persen, yang dinilai masih sangat kecil. “Tadi pak wali menanggapi kalau hanya 2,5 persen itu terlalu kecil. Bentuk kerja samanya seperti apa, itu juga belum diuraikan secara jelas,” tambahnya.
Dalam presentasi awal, PT KAS mengklaim nilai investasi yang akan ditanamkan mencapai sekitar 40 juta dolar AS atau setara Rp 680 miliar. Namun, sejumlah poin penting belum dipaparkan secara rinci, termasuk potensi kekurangan dan dampak lingkungan dari teknologi tersebut.
“Tadi belum dijelaskan kekurangannya. Emisi karbondioksida setelah reaktor beroperasi seperti apa, itu semua masih ditanyakan pak wali,” tambahnya.
Pihak investor berjanji akan memperbaiki materi paparan dan menghadirkan mitra teknologinya, Co Energy, yang disebut berbasis di Arab Saudi, untuk memberikan penjelasan teknis secara lebih komprehensif pada pertemuan lanjutan. (*)
Editor : Dwi Restu A