Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Cuaca Kota Samarinda Dominan Panas, BMKG Prediksi Turunnya Hujan Masih Minim

Denny Saputra • Rabu, 21 Januari 2026 | 18:46 WIB
Ilustrasi cuaca panas.
Ilustrasi cuaca panas.

SAMARINDA - Cuaca di Samarinda dalam beberapa pekan terakhir terasa tidak menentu, dengan hujan yang hanya terjadi sesekali di tengah dominasi panas. Kondisi ini memunculkan persepsi seolah wilayah tersebut mulai memasuki musim kemarau lebih awal. Namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan Samarinda masih berada dalam musim hujan.

Prakirawan BMKG Samarinda Wiwi Indasari menjelaskan berdasarkan analisis klimatologi, akhir Januari masih termasuk periode musim hujan. Meski demikian, karakter hujan yang terjadi cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

“Untuk akhir Januari ini dari analisis kami masih musim hujan, tapi kondisi cuaca secara umum cukup kering seperti yang terjadi seminggu ke belakang,” ungkapnya dikonfirmasi, Rabu (21/1).

Menurutnya, minimnya hujan dipengaruhi faktor dinamika atmosfer di sekitar Kalimantan Timur. Keberadaan bibit siklon di wilayah utara atau selatan menyebabkan pergerakan awan hujan menjauh dari Samarinda.

Prakirawan BMKG Samarinda Wiwi Indasari.
Prakirawan BMKG Samarinda Wiwi Indasari.

“Kalau di utara atau selatannya ada bibit siklon, biasanya gumpalan awan itu mengarah ke sana, sehingga di tempat kita justru tidak terjadi hujan atau cenderung kering,” jelasnya.

Wiwi menegaskan kondisi tersebut belum bisa disebut sebagai musim kemarau. Fenomena yang terjadi lebih mengarah pada anomali cuaca dalam musim hujan. “Belum masuk kemarau, tapi memang ada anomali. Sifat hujannya lebih kering dari biasanya,” terangnya.

Untuk 10 hari ke depan, BMKG masih memprediksi adanya potensi hujan, meski dengan intensitas rendah. Curah hujan diperkirakan berada pada kisaran 0 hingga 50 milimeter. Sementara itu, musim kemarau di Samarinda secara klimatologis biasanya terjadi pada pertengahan tahun.

“Di Kaltim khususnya Samarinda, musim kemarau umumnya antara Juni sampai September dan durasinya relatif pendek, sekitar dua sampai tiga bulan,” ucapnya.

Terkait tren suhu, Wiwi menyebut adanya peningkatan suhu maksimum dari tahun ke tahun berdasarkan data jangka panjang. “Kalau dilihat dari data 20 sampai 30 tahun terakhir, lonjakan suhu itu sangat terlihat, dipengaruhi pemanasan global dan perubahan tutupan lahan,” pungkasnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
#prakirawan #bmkg #cuaca #samarinda