KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Seorang sopir truk, Prastopo (39), mengaku antrean kendaraan di sekitar SMP 10 Samarinda terjadi karena para pengemudi menunggu jadwal melintas jembatan alternatif tersebut.
“Kami cuma mengikuti kebijakan Dishub setempat, Mas. Apalagi saya ini dari luar kota, bahkan luar pulau. Di kota orang kan kita enggak berani macam-macam, semuanya ada aturannya,” ujarnya saat ditemui di Jalan Ir Sutami, Kamis (29/1).
Terkait parkir truk di bahu Jalan Ir Sutami, Prastopo menjelaskan, para pengemudi telah mendapat informasi lokasi tunggu melalui edaran yang dibagikan di grup WhatsApp komunitas sopir truk.
“Di grup WA persatuan truk ada edaran dari Dishub provinsi. Salah satu titik tunggunya di Jalan Ir Sutami. Kalau kami melanggar, nanti kena sanksi. Upah kami bisa habis buat denda,” jelasnya.
Namun, Prastopo menyadari keberadaan truk-truk tersebut turut mengganggu aktivitas warga sekitar, termasuk orang tua murid SMP 10 Samarinda yang mengeluhkan akses antar-jemput sekolah.
“Yang terganggu bukan cuma driver, masyarakat sekitar juga kena imbas. Harapannya secepatnya bisa dinormalkan lagi. Kami juga sebenarnya enggak nyaman parkir di sini,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A