KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Keluhan warga soal kualitas air keruh kembali menjadi sorotan Perumdam (Perusahaan Umum Daerah Air Minum) Tirta Kencana Samarinda.
Dewan Pengawas (Dewas) memastikan persoalan tersebut bukan diabaikan, melainkan sedang ditangani secara bertahap melalui pembersihan pipa distribusi hingga rencana pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru sebagai solusi jangka panjang.
Ketua Dewas Perumdam Tirta Kencana Samarinda Marnabas Patiroy mengakui keluhan kualitas air cokelat sempat muncul, terutama di kawasan Bengkuring, saat Sungai Mahakam terjadi penurunan kualitas pada air sungai. Menurutnya, dengan kondisi tersebut dan dipengaruhi endapan kotoran di dalam pipa distribusi yang telah berusia puluhan tahun.
“Di Bengkuring itu air bakunya memang berbeda. Di pipanya sudah terjadi endapan. Kalau pipa dibersihkan, kotoran itu terdorong keluar,” ujar Marnabas.
Selama ini Perumdam telah menyampaikan informasi pembersihan pipa kepada masyarakat melalui ketua RT. Warga juga diimbau untuk membuang air terlebih dahulu dan tidak menampungnya saat proses pembersihan selesai. Namun, masih ada sebagian warga yang tidak mengetahui atau lupa sehingga air keruh tertampung.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dewas meminta manajemen Perumdam mengambil langkah lebih aktif. Salah satunya dengan membuka meteran air atau memotong pipa di ujung jalur distribusi agar kotoran langsung terbuang tanpa menunggu partisipasi warga.
“Saya minta Perumdam jangan lagi berharap warga yang buang air. Buka saja kilometernya atau potong pipanya di ujung. Biar kotorannya langsung keluar,” tegasnya.
Marnabas menyebut, pipa distribusi Perumdam sebagian besar telah berusia lebih dari 30 tahun. Karena itu, pembersihan dan penggantian dilakukan secara bertahap. Saat ini, total pipa tua yang perlu diganti mencapai sekitar 30 kilometer dengan estimasi anggaran pembersihan pipa Rp 30 miliar.
“Tidak mungkin langsung semua. Bertahap setiap tahun. Misalnya Rp 5 miliar per tahun, enam tahun bisa selesai,” jelasnya.
Namun, dia mengingatkan penggantian pipa saja tidak cukup jika kualitas air baku masih bermasalah. Oleh sebab itu, Perumda juga menyiapkan rencana pembangunan IPA baru di wilayah sekitar Loa Kulu sebagai solusi jangka panjang. “IPA baru itu penting untuk antisipasi kemarau panjang dan mencegah intrusi air laut. Jadi kualitas air bisa lebih terjaga,” kata Marnabas.
Langkah-langkah tersebut, lanjut Marnabas, merupakan bagian dari komitmen Perumdan menjalankan arahan wali kota Samarinda. Terdapat tiga target utama yang harus dicapai, yakni cakupan layanan 100 persen pada 2029, peningkatan kualitas air, serta distribusi air 24 jam tanpa gangguan.
“Kualitas air dari induknya sebenarnya bagus. Tinggal bagaimana distribusinya itu kita benahi,” pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A