Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kawasan Bengkuring Masih Terancam Banjir, Imbas Tanggul Belum Tersambung

M Hafiz Alfaruqi • Rabu, 4 Maret 2026 | 17:57 WIB

LIMPASAN: Kolam retensi Bengkuring di Kelurahan Sempaja Timur yang disiapkan menekan limpasan air ke Perumahan Bengkuring.
LIMPASAN: Kolam retensi Bengkuring di Kelurahan Sempaja Timur yang disiapkan menekan limpasan air ke Perumahan Bengkuring.

 

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA–Demi mengurai masalah banjir di Perumahan Bengkuring, Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara, belum sepenuhnya aman. 

Meski kolam retensi Bengkuring telah dibangun, ancaman limpasan Sungai Karang Mumus (SKM) masih mengintai lantaran proyek tanggul belum tersambung hingga tuntas.

Ketua Komisi III DPRD Samarinda Deni Hakim Anwar menegaskan, penyelesaian tanggul oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV menjadi kunci utama menekan banjir di kawasan tersebut.

"Kami sudah beberapa kali ke Bengkuring. Tanggul yang dibangun BWS belum selesai seluruhnya. Masih ada sisa sekitar dua kilometer sampai ke arah Betapus. Selama itu belum tersambung, air Sungai Karang Mumus tetap bisa melimpas ke perumahan," ujarnya, Rabu (4/3). 

Menurut Deni, limpasan dari SKM selama ini menjadi penyebab banjir yang cukup dalam dan lama surut di Bengkuring. Karena itu, pihaknya akan berkomunikasi langsung dengan BWS Kalimantan IV guna menanyakan realisasi kelanjutan pembangunan tanggul.

Selain meninjau tanggul, juga mengecek perkembangan kolam retensi Bengkuring yang dibangun Pemkot Samarinda. Pada tahap 2025, kolam dengan tahap luasan sekitar 5 hektare dari total 26 hektare telah rampung dikerjakan.

Namun, Komisi III memberi sejumlah catatan. Salah satunya terkait kondisi akses menuju tanggul yang masih tergenang. Menurut Deni, tanggul semestinya lebih tinggi dari muka air. Jika air dapat melewati tanggul, fungsi pengendalian banjir menjadi tidak maksimal.

"Jangan sampai tanggul justru tidak terlihat karena ada genangan. Kalau air bisa melewati tanggul, sama saja tidak ditanggul," tegasnya.

Dia meminta Dinas PUPR, khususnya Bidang Sumber Daya Air (SDA), memastikan pengelolaan tanah hasil pengerukan tidak menimbulkan penumpukan yang memperburuk kondisi sekitar.

Dari sisi kapasitas, kolam retensi Bengkuring secara keseluruhan ditargetkan memiliki luasan total 16 hektare. Dengan asumsi kedalaman rata-rata dua meter, daya tampungnya diperkirakan mencapai sekitar 320 ribu meter kubik air.

"Itu yang kami gadang-gadang untuk menekan limpasan agar tidak masuk ke perumahan warga," jelasnya.

Komisi III juga menyoroti persoalan gulma yang mulai tumbuh di kolam retensi, termasuk di kolam retensi Sempaja Lestari Indah (SLI). Vegetasi liar dinilai dapat mengurangi kapasitas tampung air.

"Kami sudah minta dinas segera membersihkan gulma. Jangan sampai kapasitas kolam berkurang, apalagi itu belum lama selesai," ujarnya.

Deni menegaskan, kolam retensi bukan hanya berfungsi saat musim hujan sebagai penampung air, tetapi juga harus dapat dikelola saat musim kemarau melalui sistem pompa untuk mengatur debit air.

"Tujuan akhirnya satu, menekan banjir di Bengkuring dan Sempaja Timur. Infrastruktur sudah dibangun, tinggal dipastikan fungsinya berjalan maksimal," kuncinya. 

 

Editor : Dwi Restu A
#bengkuring #Kebanjiran #samarinda