SAMARINDA - Keberadaan polder Air Hitam di Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu, menjadi salah satu infrastruktur penting untuk menahan limpasan air dan mengurangi potensi banjir di kawasan tersebut, misalnya Jalan AW Syaharanie Samarinda.
Namun, area retensi seluas sekitar lima hektare itu kini menghadapi persoalan klasik, sampah plastik. Kondisi ini kerap terlihat saat tim swakelola melakukan pengerukan sedimentasi secara rutin.
Baca Juga: Penataan Polder Air Hitam Diminta Berkeadilan, DPRD Soroti Nasib UMKM
Aktivitas masyarakat di sekitar polder memang cukup ramai. Banyak pedagang asongan hingga penjual kopi keliling yang mangkal, sehingga area tersebut menjadi titik berkumpul warga untuk bersantai. Sayangnya, tidak semua pengunjung memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.
Kepala UPTD Pemeliharaan Saluran Drainase dan Irigasi Dinas PUPR Samarinda Akhmad Supriyadi mengatakan persoalan sampah di polder Air Hitam sebagian besar dipicu perilaku masyarakat yang kurang disiplin. Meski tersedia petugas kebersihan di kawasan itu, sampah plastik tetap sering ditemukan menumpuk.
“Banyak kami dapati ketika melakukan pembersihan sedimentasi,” singkatnya, Jumat (3/4).
Menurutnya, banyak sampah yang awalnya dibuang sembarangan di sekitar area polder. Ketika hujan turun, sampah tersebut terbawa aliran air dan akhirnya masuk ke dalam kolam retensi. Akibatnya, tim yang melakukan penyedotan maupun pengerukan kerap menemukan sampah dalam jumlah besar bercampur dengan lumpur.
Baca Juga: Pedagang UMKM di Polder Air Hitam Ditata, Pemkot Siapkan Lokasi Sementara
“Karena bentuk sampahnya biasanya gelas dan bungkus plastik ya,” terangnya.
Ia menambahkan, keberadaan pedagang minuman keliling turut menyumbang volume sampah plastik dari gelas sekali pakai. Pengunjung yang selesai minum kerap meninggalkan kemasan di sekitar lokasi, sehingga berpotensi masuk ke sistem drainase saat hujan turun.
“Kalau dari kami, ya diusahakan buang sampah di tempat yang sudah disediakan. Dikemas dengan baik, jangan dibuang sembarangan. Kalau kebiasaan ini terus terjadi, saat kami menyedot sedimentasi di polder, sampahnya luar biasa banyak,” ujarnya.
Sebagai informasi kawasan tersebut terdapat satu TPS dan insinerator yang bisa menjadi lokasi untuk pembuangan sampah.
Editor : Muhammad Ridhuan