SAMARINDA- Cuaca di Kalimantan Timur, khususnya Samarinda, dalam beberapa pekan terakhir terasa tidak menentu. Curah hujan yang biasanya masih tinggi pada periode musim hujan justru menurun. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi menjelang masa peralihan musim.
Prakirawan Iklim BMKG Samarinda, Wiwik Indah Sari Aziz mengatakan penurunan hujan dalam beberapa minggu terakhir dipengaruhi adanya gangguan atmosfer di wilayah selatan Indonesia. Kondisi tersebut membuat distribusi uap air yang biasanya masuk ke wilayah Samarinda menjadi berkurang. “Ini terjadi karena ada pusat tekanan rendah di selatan Indonesia sehingga uap air lebih banyak tertarik ke arah selatan dan hujan tidak turun di Samarinda,” ujarnya Senin (6/4).
Dia menyebut, meski Samarinda mengalami penurunan hujan, sejumlah wilayah lain di Kalimantan Timur masih diguyur hujan. Di wilayah selatan seperti Paser serta daerah utara seperti Berau, curah hujan relatif masih terjadi. “Kalau di Kalimantan Timur sebenarnya hujan masih terjadi di beberapa wilayah, hanya distribusinya saja yang tidak merata,” sebutnya.
Selain faktor lokal, BMKG juga memantau adanya pengaruh fenomena global terhadap pola cuaca di Indonesia. Salah satunya adalah potensi munculnya El Nino lemah pada pertengahan tahun. “El Nino ini menyebabkan suhu muka laut di wilayah Indonesia lebih rendah dari normal sehingga curah hujan cenderung menurun,” terangnya.
Fenomena tersebut diperkirakan terjadi bersamaan dengan masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Dampaknya, musim kemarau di Kalimantan Timur berpotensi datang lebih awal dari pola normal. “Biasanya kemarau masuk sekitar Juli, tetapi tahun ini diperkirakan sudah mulai pertengahan Juni,” singkatnya.
Di sisi lain, BMKG juga mengingatkan potensi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring kondisi cuaca yang lebih panas. Dalam dua minggu terakhir, titik api sudah mulai terpantau di sejumlah wilayah Kaltim. “Hampir semua kabupaten kota ada titik api, tetapi yang cukup dominan terpantau di Samarinda dan Kutai Kartanegara,” sebutnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi yang cepat terjadi. Kewaspadaan dinilai penting agar aktivitas harian masyarakat tetap berjalan dengan aman. “Masyarakat diharapkan rutin mengakses informasi dari BMKG sehingga bisa menyesuaikan aktivitasnya dengan kondisi cuaca yang ada,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani