SAMARINDA- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda mulai menyiapkan pemasangan perangkat GPS pada armada truk pengangkut sampah. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan pengawasan sekaligus mendorong efisiensi operasional di tengah tekanan fiskal pemerintah daerah. Uji coba sistem tersebut direncanakan segera dimulai setelah sebagian perangkat terpasang.
Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengatakan, program ini juga menjadi bagian dari upaya digitalisasi sistem pengangkutan sampah yang selama ini masih dilakukan secara manual. Dengan pemantauan berbasis teknologi, pergerakan armada diharapkan lebih terkontrol dan transparan.
“Setiap unit truk sampah memiliki alokasi BBM yang berbeda, berdasarkan perhitungan jarak TPS menuju TPA di Sambutan. Aplikasi ini dibutuhkan sebagai bentuk tanggung jawab DLH dalam melakukan pemantauan dan pengawasan kegiatan pengangkutan sampah,” ujarnya, Selasa (7/4).
Ia menjelaskan, saat ini DLH mengoperasikan puluhan armada pengangkut sampah dengan jumlah pengemudi yang cukup besar. Dengan kondisi tersebut, pengawasan manual dinilai tidak lagi efektif.
“DLH saat ini memiliki 73 unit truk dan 89 sopir. Dengan jumlah sebanyak itu mustahil pengawasan dilakukan secara manual, sehingga GPS tracker menjadi salah satu cara mentransformasikan pola kerja manual menjadi digital,” jelasnya.
Pengembangan sistem pemantauan tersebut juga melibatkan perangkat daerah lain. DLH telah melakukan koordinasi awal dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Samarinda untuk menyiapkan aplikasi yang nantinya akan digunakan memantau pergerakan armada secara terintegrasi.
“Kami sudah melakukan pertemuan awal dengan Diskominfo bersama TWAP serta menyiapkan data yang dibutuhkan. Secara detail progres pengembangan aplikasinya nanti Diskominfo yang bisa menjelaskan,” terangnya.
Sambil menunggu aplikasi rampung, DLH menggandeng vendor penyedia perangkat GPS tracker sebagai solusi sementara. Hingga akhir Maret 2026, hampir setengah dari armada truk sampah telah dipasangi perangkat tersebut.
“Jika seluruh unit sudah terpasang, kami menargetkan paling tidak sekitar 10 persen efisiensi penggunaan BBM, meski secara nilai rupiah belum bisa dihitung karena harga Dexlite berubah setiap bulan,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani