Uji Coba Insinerator Samarinda: DLH Fokus Pemanasan Mesin dan Pelatihan Petugas di TPS

Denny Saputra • Dipublikasikan Jumat, 10 April 2026 | 14:38 WIB
TUNGGU GILIRAN: Salah satu insinerator di Jalan Nusyirwan Ismail yang siap beroperasi namun menjalani ujicoba persiapan. (KALTIM POST)
TUNGGU GILIRAN: Salah satu insinerator di Jalan Nusyirwan Ismail yang siap beroperasi namun menjalani ujicoba persiapan. (KALTIM POST)

 

SAMARINDA-Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda masih melakukan uji coba operasional insinerator pengolah sampah. Tahap ini difokuskan pada pemanasan mesin serta pelatihan petugas sebelum alat tersebut beroperasi penuh. Selama masa uji coba, pengoperasian mesin masih dibatasi hanya setengah hari.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar menyampaikan, setiap proses dimulai dengan pengecekan menyeluruh pada komponen mesin. Petugas memastikan seluruh sistem, mulai dari bagian elektrik hingga blower, berfungsi dengan baik sebelum mesin dipanaskan. “Awalnya dilakukan pengecekan seluruh kondisi mesin. Setelah dipastikan berfungsi semua, baru dilakukan proses pemanasan mesin,” jelasnya, Jumat (10/4).

Dia menjelaskan, pada tahap awal pemanasan, bahan kayu masih digunakan untuk membantu meningkatkan suhu pembakaran. Proses ini biasanya berlangsung sekitar 30 menit hingga suhu ruang bakar meningkat secara bertahap. Setelah suhu mencapai sekitar 600 derajat Celsius, barulah sampah mulai dimasukkan ke dalam insinerator. Sampah tersebut berasal dari tempat penampungan sementara (TPS) dan dibakar secara bertahap sesuai kondisi materialnya.

Baca Juga: Uji Coba Insinerator Masih Berjalan, DLH Samarinda Kekurangan 46 Operator

“Kalau suhunya sudah sekitar 600 derajat baru kita masukkan berbagai jenis sampah dari TPS. Tapi untuk sampah basah idealnya di atas 800 derajat karena kalau di bawah itu masih bisa menimbulkan asap,” jelasnya. Dalam tahap uji coba ini, operasional pembakaran masih dibatasi hingga sekitar pukul 14.00 Wita. Setelah itu, proses dilanjutkan dengan pendinginan mesin dengan menghentikan pasokan sampah dan mematikan blower hingga api benar-benar padam. “Proses mematikan mesin sekitar dua jam. Petugas tetap standby memastikan api sudah benar-benar mati sebelum dilakukan pengecekan akhir dan pembersihan,” tambahnya.

Menurut Taufiq, pembatasan waktu operasional dilakukan karena proses uji coba juga menjadi bagian dari pelatihan dan peningkatan kapasitas petugas. Selain itu, DLH juga masih mencari pola penanganan sampah yang lebih efektif di lokasi TPS insinerator. “Ini masih tahap uji coba sambil pelatihan. Kita juga sedang mencari pola yang tepat karena sampah dari TPS masih bercampur,” ujarnya.

DLH berencana mengatur sistem pemilahan sederhana agar sampah basah dan kering dapat dipisahkan sejak awal saat dibawa truk pengangkut. Dengan cara itu, proses pembakaran di mesin insinerator diharapkan menjadi lebih cepat dan efisien. “Program ini masih baru, jadi terus kita evaluasi sambil mencari pola yang paling pas. Monitoring dan pengawasan juga terus kita lakukan,” tutupnya. (riz)

 

Editor : Muhammad Rizki
Sumber : Kaltim Post
uji coba insinerator Insinerator Samarinda dlh samarinda