KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Kenaikan harga plastik di Kota Tepian melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan itu bahkan mencapai lebih 50 persen dan mulai dirasakan sejak pertengahan Ramadan hingga menjelang Lebaran.
Kondisi tersebut dipicu terganggunya pasokan bahan baku akibat gejolak geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Di tingkat pedagang, dampaknya sudah sangat terasa. Salah satunya di Toko Plastik CV Lancar, Jalan Perniagaan, Samarinda. Harga berbagai jenis plastik mengalami kenaikan signifikan karena bergantung pada bahan baku impor.
Pramuniaga Toko Plastik CV Lancar, Ilham, menjelaskan, kenaikan harga tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan mulai merangkak naik sejak isu konflik internasional mencuat. "Kalau pastinya sejak ada isu perang itu sudah mulai terasa. Karena bahan baku plastik, seperti biji plastik, masih impor dari luar negeri. Jadi karena ada gangguan global, pasokan dalam negeri ikut terdampak," ujarnya, Rabu (8/4).
Bahan baku plastik berasal dari turunan minyak bumi seperti nafta, sehingga fluktuasi harga energi dunia turut memengaruhi harga plastik di pasaran. Harga plastik yang sebelumnya berkisar Rp 25 ribu per kilogram, kini melonjak menjadi Rp 50 ribu bahkan lebih. "Kenaikannya bisa di atas 50 persen, dan kemungkinan masih bisa naik lagi sampai akhir bulan ini," jelasnya.
Kenaikan itu berdampak langsung pada penjualan. Meski margin keuntungan per barang meningkat, daya beli konsumen justru menurun. "Omzet pasti turun. Pembeli biasanya sudah punya anggaran sendiri, jadi tidak bisa beli lebih banyak. Yang paling terdampak itu pelaku usaha makanan," jelasnya.
Baca Juga: Maling Rumah Kosong di Balikpapan Diamuk Warga, Kepergok Sembunyi di Plafon
Hampir semua jenis plastik mengalami kenaikan harga, terutama gelas plastik, thinwall, dan kantong keresek. Sementara itu, kertas pembungkus makanan juga ikut naik, meski tidak setinggi plastik. "Alternatifnya memang ada, seperti kertas. Tapi tetap saja ada campuran plastiknya, seperti laminasi. Dan harganya juga ikut naik," tambahnya.
Kondisi itu turut memengaruhi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada kemasan plastik. Kenaikan biaya kemasan berpotensi menekan keuntungan, bahkan bisa berdampak pada harga jual produk ke konsumen.
Di sisi distribusi, kenaikan harga terjadi berantai dari pabrik, distributor, hingga ke tingkat toko. Hal itu membuat harga di tingkat konsumen semakin tinggi. "Kalau dari pabrik sudah naik, distributor pasti ikut naikkan. Sampai ke toko kecil, ujungnya ke konsumen juga naik," pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A