SAMARINDA - Pameran ilustrasi naratif bertajuk Samarinda Graphic Memoir Exhibition 2026 digelar terbuka untuk umum di Samarinda Design Hub, Jalan Wahid Hasyim 2 Kecamatan Samarinda Utara pada 11–19 April 2026.
Ajang ini menampilkan karya cerita bergambar dan komik yang merekam kenangan warga terhadap Kota Samarinda. Sebanyak 20 partisipan menghadirkan sudut pandang personal tentang kota yang mereka kenal dan alami.
Baca Juga: Bentuk Partisipasi WFH, Dishub Samarinda Kampanyekan Gerakan Sehari Tanpa Kendaraan Bermotor
Founder Samarinda Design Hub Ramadhan S Pernyata menjelaskan, pameran ini menjadi ruang bagi ilustrator untuk menceritakan Samarinda melalui pengalaman pribadi yang beragam.
“Cerita yang ditampilkan tidak hanya tentang tempat, tetapi juga memori keseharian yang melekat dengan kota,” terangnya, Jumat (17/4).
Menurutnya, setiap partisipan membawa kisah berbeda tentang Samarinda. Ada yang mengenal Kota Tepian lewat kuliner, landmark, hingga pengalaman masa kecil yang berkaitan dengan lingkungan tempat tinggal mereka.
“Dari 20 partisipan ini semua punya cerita berbeda tentang Samarinda. Ada yang mengenal lewat makanan, ada yang lewat ikon kota, bahkan ada yang lewat buah-buahan yang sering mereka makan,” jelasnya.
Beberapa karya bahkan mewakili cerita dari berbagai wilayah tingkat kelurahan di Samarinda. Mulai dari kisah dari Selili, Mugirejo, Makroman hingga Kampung Tenun di Samarinda Seberang, yang menghadirkan potret kota dari perspektif warganya sendiri.
“Karena setiap orang punya kenangan sendiri tentang kota,” singkatnya.
Baca Juga: WFH Jumat Dimulai, Ada 667 ASN Pemkot Samarinda Kerja dari Rumah
Ramadhan menyebut pameran ini menjadi pendekatan baru dalam mendokumentasikan kota. Bukan melalui sejarah resmi, melainkan melalui kenangan warga yang sering kali luput dari pencatatan formal.
“Kita ingin mencatat Samarinda dari sudut pandang yang lain, bukan hanya dari sejarah resmi, tetapi dari kenangan warga yang pernah hidup di kota ini,” terangnya.
Dari total sekitar 300 gambar yang masuk dalam proses submission, kurator akhirnya memilih 215 karya yang dinilai paling relevan dengan tema memoar kota. Seluruh peserta merupakan warga yang pernah tumbuh atau memiliki keterkaitan dengan Samarinda, meski sebagian kini tinggal di kota lain.
Dalam proses kreatifnya, panitia tidak membatasi teknik ilustrasi yang digunakan. Namun satu aturan yang diterapkan adalah larangan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatan karya. Sebagian ilustrator menggunakan teknik manual, sementara lainnya mengerjakan karya secara digital.
“Yang penting semua karya tetap menceritakan Samarinda. Mau manual atau digital tidak masalah, yang kami tekankan adalah tidak boleh menggunakan AI,” jelasnya.
Sebagai bentuk dokumentasi, seluruh karya dalam pameran ini rencananya akan dibukukan dalam katalog khusus. Ramadan mengatakan katalog tersebut diupayakan dapat tersimpan di perpustakaan internasional, termasuk di Leiden University Libraries dan Library of Congress.
“Kami ingin cerita tentang Samarinda ini terdokumentasi dan bisa diakses lebih luas. Karena dari kenangan warga inilah kita bisa melihat wajah kota yang sebenarnya,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan