IDSD 2025 Samarinda Masuk Tujuh Besar Nasional, Hetifah Soroti Pentingnya Inovasi Daerah

Denny Saputra • Dipublikasikan Minggu, 19 April 2026 | 17:20 WIB
Hetifah Sjaifudian
Hetifah Sjaifudian

SAMARINDA- Capaian Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 Kota Samarinda mendapat apresiasi dari anggota Komisi X DPR RI asal Kalimantan Timur, Hetifah Sjaifudian. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan potensi daerah yang semakin kuat dalam mendorong inovasi dan pengembangan sumber daya manusia.

“Alhamdulillah kalau indeks daya saing kita lebih tinggi dibanding banyak daerah lain, itu berarti Kaltim cukup kondusif untuk berkembang,” ujarnya, ditemui Minggu (19/4).

Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Samarinda menempati peringkat ketujuh kota paling maju di Indonesia dalam IDSD 2025. Di luar Pulau Jawa, posisi Samarinda bahkan masuk tiga besar bersama Banjarmasin dan Medan.

“Kalimantan Timur memang kaya sumber daya alam, tetapi masa depan daerah ini sangat bergantung pada inovasi dan kreativitas generasi mudanya,” kata Hetifah.

Ia menilai iklim yang mendukung inovasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing daerah. Dukungan tersebut diharapkan mampu menarik berbagai kolaborasi dari luar daerah bahkan dari luar negeri. “Yang penting kita menciptakan iklim yang kondusif supaya dukungan dari luar, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, bisa mengalir ke Kaltim,” jelasnya.

Selain itu, Hetifah menyoroti peran sumber daya manusia sebagai faktor utama dalam peningkatan daya saing daerah. Tingginya angka partisipasi pendidikan tinggi di Kalimantan Timur menjadi modal penting bagi pembangunan ke depan.

“Angka partisipasi kasar perguruan tinggi di Kaltim sudah sekitar 40 persen, sementara nasional masih 32 persen, ini tentu menjadi kebanggaan,” akunya.

Meski demikian, ia mengakui keterbatasan anggaran riset di daerah masih menjadi tantangan. Karena itu pemerintah daerah didorong membuka kolaborasi lebih luas dengan berbagai pihak.

“Tidak semua bisa dipenuhi dengan anggaran pemerintah, sehingga daerah harus terbuka kepada pihak eksternal untuk mendukung riset dan pembangunan,” tegasnya.

Hetifah menambahkan, indeks daya saing juga mencerminkan daya tarik suatu daerah bagi investor dan mitra pembangunan. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat infrastruktur hingga layanan publik di daerah.

“Kalau daya saing daerah baik, maka pembangunan fasilitas publik seperti kampus, industri hingga layanan kesehatan juga bisa didukung melalui kolaborasi dengan berbagai pihak,” pungkasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
IDSD Samarinda 2025 BRIN Hetifah Sjaifuddian