Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Imbas Pembangunan Sekolah yang Belum Tuntas, Siswa SD 010 Palaran Terpaksa Belajar Bergantian

M Hafiz Alfaruqi • Kamis, 23 April 2026 | 17:44 WIB
MANDEK: Progres pembangunan SD 010 Palaran belum rampung, membuat siswa masih belajar bergantian dan menumpang di sekolah lain.
MANDEK: Progres pembangunan SD 010 Palaran belum rampung, membuat siswa masih belajar bergantian dan menumpang di sekolah lain.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Aktivitas belajar mengajar di SD 010 Kecamatan Palaran belum sepenuhnya kembali normal. Di tengah proses pembangunan yang belum rampung, ratusan siswa masih harus menumpang dan belajar secara bergantian di sekolah lain. Kondisi itu menjadi sorotan dalam kunjungan lapangan Panitia Khusus (Pansus) LKPj kepala daerah tahun anggaran 2025, Kamis (23/4).

Kepala SD 010 Palaran Sarti mengungkapkan, harapannya agar pembangunan sekolah yang saat ini masih berlangsung dapat segera diselesaikan secara menyeluruh. Tidak hanya bangunan fisik, dia juga berharap fasilitas penunjang seperti mebeler turut diperhatikan.

Baca Juga: Kejurnas Taekwondo 2026 Samarinda Jadi Kawah Candradimuka Atlet Muda Kaltim

"Harapannya sekolah kami cepat selesai dibangun, sekaligus dengan mebelernya. Karena yang ada sekarang banyak yang rusak. Ke depan kami juga berharap ada tambahan fasilitas seperti laboratorium, kantin sehat, dan lainnya," ujarnya, Kamis (23/4). 

Saat ini, seluruh siswa SD 010 yang berjumlah sekitar 300 orang terpaksa menumpang untuk kegiatan belajar di SD 024 Palaran, Jalan Padat Karya. Sistem belajar dilakukan secara bergantian (shift), lantaran keterbatasan ruang di sekolah yang ditumpangi. "Di sana hanya ada delapan rombongan belajar, sementara kami butuh 12 rombel. Jadi siswa kami masuk siang, mulai pukul 13.00-16.00 Wita. Sementara pagi digunakan siswa sekolah tersebut (SD 024)," sambungnya.

Sebelum dilakukan renovasi, kondisi sekolahnya tergolong memprihatinkan. Bangunan yang ada masih berbahan kayu, berbeda dengan sekolah lain di Palaran yang umumnya sudah menggunakan konstruksi beton. "Ini satu-satunya sekolah di Palaran yang dulu masih bangunan kayu. Kondisinya sudah rusak parah," ungkapnya.

Baca Juga: Tersisa Dua Laga, Persiba Balikpapan Masih Berusaha Jauhi Zona Playoff Degradasi

Pembangunan sekolah yang dimulai pada 2025 tersebut merupakan hasil perjuangan panjang pihak sekolah bersama guru dan komite, yang aktif mengajukan proposal kepada pemerintah dan DPRD. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan dikucurkannya anggaran sekitar Rp 10 miliar dari Pemkot Samarinda.

Dalam perencanaannya, pembangunan mencakup 14 ruang, terdiri 12 ruang kelas, satu ruang UKS, dan satu perpustakaan. Namun, dalam pelaksanaannya, proyek tersebut menghadapi kendala teknis yang berdampak pada pembengkakan biaya. "Awalnya tiang pancang direncanakan cukup 18 meter, tapi ternyata harus sampai 30 meter untuk mencapai tanah keras. Akhirnya anggaran terserap di situ, dan menyebabkan empat ruangan belum selesai," terangnya.

Pekerjaan yang semula ditargetkan rampung pada Desember 2025 itu baru selesai sebagian pada Februari 2026. Saat ini, pembangunan masih menunggu kelanjutan anggaran untuk menuntaskan sisa pekerjaan. "Informasinya tahun ini akan dilanjutkan. Kami mohon doa agar bisa selesai, karena kami sudah cukup lama menunggu," harapnya.

Baca Juga: Penerapan Teknologi Dukung Efisiensi Pertanian Kaltim

Meski harus menjalani keterbatasan, Sarti mengapresiasi dukungan orang tua siswa yang tetap memahami kondisi tersebut. Tidak ada keluhan berarti selama proses relokasi berlangsung. "Alhamdulillah orang tua mendukung, tidak ada komplain. Semua memahami situasi tersebut," pungkasnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
#palaran #sekolah #Menumpang #samarinda #pembangunan