SAMARINDA-Pemerintah terus menjaga budaya gotong royong sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan. Sekitar 2.000 rukun tetangga (RT) di kota Samarinda, disebut rutin menggelar kegiatan gotong royong minimal dua kali dalam sebulan. Kegiatan tersebut dikoordinasikan oleh lurah dan dilaporkan secara berkala kepada pemerintah kota.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, kegiatan gotong royong umumnya dilaksanakan setiap akhir pekan. Seluruh RT diminta melaporkan pelaksanaannya melalui sistem pemantauan yang telah disiapkan pemerintah kota.
“Kurang lebih ada sekitar dua ribu RT di Samarinda. Setiap akhir pekan mereka melaksanakan gotong royong yang dikoordinir lurah masing-masing dan dilaporkan ke grup monitoring,” ujarnya saat memantau kegiatan pembersihan di kawasan Teras Samarinda, Minggu (26/4).
Menurutnya, pemantauan tidak hanya dilakukan pada kegiatan gotong royong. Pemerintah kota juga memonitor penyapuan jalan hingga pengangkutan sampah yang dilakukan petugas kebersihan setiap hari. “Mulai dari subuh kita monitor penyapuan jalan, kemudian pengangkutan sampah. Termasuk gotong royong di akhir pekan itu juga dilaporkan lengkap dengan foto dan video,” jelasnya.
Ia menambahkan, laporan tersebut akan dievaluasi di tingkat pimpinan, termasuk untuk melihat efektivitas distribusi tenaga kebersihan maupun menentukan lokasi yang masih membutuhkan penanganan tambahan.
Selain itu, Andi Harun juga menginstruksikan pembersihan sampah di sejumlah bahu jalan yang masih sering dipenuhi sampah plastik. Beberapa titik yang menjadi perhatian di antaranya jalur menuju Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, kawasan pergudangan, hingga ruas jalan menuju Bigmall Samarinda.
“Masih ada kebiasaan sebagian pengguna kendaraan membuang sampah dari mobil. Kami mengimbau agar sampah disimpan dulu dan dibuang di tempat yang semestinya,” tambahnya.
Selain membersihkan jalan, pemerintah kota juga meminta RT bersama petugas kebersihan melakukan pembersihan saluran drainase dan pengangkatan tanaman liar seperti eceng gondok agar tidak menghambat aliran air.
“Gotong royong ini bukan hanya soal kebersihan, tapi juga memperkuat silaturahmi warga. Kalau bukan kita yang menjaga lingkungan sendiri, lalu mau menunggu siapa lagi,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani