KSLTIMPOST.ID. SAMARINDA – Penanganan banjir di wilayah Samarinda Utara terus menjadi fokus Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Pemkot bergerak cepat dengan menurunkan lima ekskavator mini dan sejumlah dump truck yang melibatkan lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Warga juga diajak turun langsung dalam gotong royong massal, membersihkan sedimentasi drainase di Jalan Sukorejo RT 43, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, Minggu (17/5).
Baca Juga: Keroyokan Tangani Banjir Lempake, Pengembang Perumahan Harus Buat Polder Penampungan Air
Pembersihan dilakukan bersama Tim Hantu Banyu PUPR Samarinda, DLH, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Perdagangan hingga masyarakat setempat. Sedimentasi tebal yang menutup saluran parit (drainase) disebut menjadi salah satu penyebab utama genangan di kawasan tersebut.
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda Marnabas Patiroy mengatakan, penanganan banjir masih menjadi perhatian serius Pemkot Samarinda. Evaluasi terhadap titik-titik banjir akan dilakukan secara berkala. "Pak Wali Kota ingin titik-titik banjir di Samarinda terus dievaluasi. Kalau bisa setiap triwulan kita rapatkan perkembangan penanganannya sejauh mana," ujarnya, Minggu (17/5).
Menurutnya, hasil tinjauan di lapangan menunjukkan sedimentasi di kawasan Sukorejo dipicu aktivitas galian C di wilayah hulu. Material tanah terbawa air hujan dan menumpuk di drainase hingga menghambat aliran air.
Baca Juga: Kebut Sisa 33 Kilometer, Megaproyek Jalan Kubar–Mahulu Sepanjang 135 Km Ditarget Tuntas 2027
“Dalam minggu ini juga pihak galian C akan kami panggil. Mereka sudah siap membuat saluran irigasi dan polder sementara supaya sedimentasi tidak langsung turun ke permukiman warga," jelasnya.
Selain itu, pemkot juga berencana membebaskan lahan sekitar 70 meter di titik ujung aliran anak sungai yang menjadi hambatan aliran air. Pembahasan pembebasan lahan akan segera dikoordinasikan bersama BPKAD.
Tak hanya di Sukorejo, peninjauan juga dilakukan di kawasan perumahan Korem di Jalan Purworejo, Kelurahan Lempake, yang mencakup enam RT.
Di lokasi tersebut, pemkot juga mendorong pembangunan polder untuk menampung limpasan air hujan sebelum dialirkan keluar kawasan.
Marnabas menegaskan, penanganan banjir dilakukan secara paralel, mulai pembersihan sedimentasi, normalisasi drainase hingga pengawasan aktivitas galian C. Bahkan, pemkot mengancam menutup lokasi galian yang tidak melakukan penanganan lingkungan.
"Kalau tidak mengikuti arahan, bisa saja kami tutup. Karena sedimentasinya memang cukup parah," tegasnya.
Baca Juga: Rivalitas Messi vs Ronaldo Berpotensi Memanas di Piala Dunia 2026
Untuk jangka panjang, Pemkot Samarinda menyiapkan pembangunan kolam retensi di sejumlah kawasan rawan banjir seperti di Sukorejo, Desa Pampang, hingga Damanhuri yang saat ini masih dalam tahap proses pembangunan.
"Walau kondisi keuangan daerah sedang terdampak kebijakan efisiensi dari pemerintah pusat, kami tetap mencari solusi agar penanganan banjir terus berjalan. Minimal titik-titik banjir bisa tertangani," pungkasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A