SAMARINDA-Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda terus memperkuat berbagai langkah penanganan tuberkulosis (TB) untuk meningkatkan penemuan kasus dan mempercepat pengobatan pasien. Upaya tersebut dilakukan karena TB menjadi salah satu program prioritas nasional di bidang kesehatan sekaligus bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang wajib dipenuhi pemerintah daerah.
Kepala Dinas Kesehatan Samarinda dr Ismid Kusasih mengatakan, tantangan terbesar dalam pengendalian TB selama ini bukan pada pengobatan. Melainkan menemukan penderita sedini mungkin. Karena itu, berbagai program terus dijalankan untuk memperluas cakupan penemuan kasus di masyarakat,” ujarnya, Minggu (14/6).
Dia menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui gerakan TB Kelurahan yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam promosi kesehatan dan deteksi dini. Semakin cepat pasien ditemukan, semakin cepat pula pengobatan dapat diberikan sehingga risiko penularan bisa ditekan. “Penyakit menular seperti TB itu semakin cepat ditemukan, semakin cepat diobati, maka hasilnya akan semakin baik,” jelasnya.
Baca Juga: Jauh Lebih Hemat, Cuma Rp 1.000-an Per Hari untuk Motor Bebas Parkir Setahun di Samarinda
Dia mengungkapkan capaian Samarinda saat ini cukup menggembirakan. Cakupan penemuan penderita TB di Kota Tepian telah berada di atas 70 persen, melampaui rata-rata nasional yang masih berada di bawah angka tersebut. “Itu yang membuat kami optimistis berbagai langkah yang dilakukan akan mempercepat pengobatan dan pengendalian penyakit ini,” ungkapnya.
Selain memperkuat deteksi kasus, fasilitas pelayanan kesehatan juga terus disiapkan. Beberapa waktu lalu RSUD IA Moeis bahkan menambah kapasitas tempat tidur untuk penanganan pasien TB dan HIV guna mendukung pelayanan yang lebih optimal. “Fasilitas kesehatan kami juga siap menangani pasien kasus ini,” singkatnya.
Terkait kendala penanganan, Ismid memastikan sejauh ini tidak ada hambatan berarti. Namun, pihaknya berharap pasokan obat TB dari pemerintah pusat tetap terjamin agar program pengobatan dapat berjalan berkelanjutan. “Yang penting ketersediaan obat tetap terjaga sehingga pelayanan kepada pasien bisa terus berjalan dengan baik,” pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki