Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kemarau Belum Stabil, BMKG Prediksi Hujan di Samarinda Masih Tinggi hingga 20 Juni

Denny Saputra • Senin, 15 Juni 2026 | 13:13 WIB
Wiwi Indasari
Wiwi Indasari

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Hujan deras yang mengguyur Samarinda dalam beberapa hari terakhir kembali memicu genangan dan banjir di sejumlah titik, termasuk Kecamatan Palaran dan sekitarnya.

Kondisi tersebut terjadi di tengah informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut Kalimantan Timur saat ini masih berada pada fase kemarau basah atau masa peralihan menuju musim kemarau.

Prakirawan Cuaca BMKG Samarinda Wiwi Indasari menjelaskan, curah hujan di Samarinda dalam satu dasarian ke depan atau hingga 20 Juni masih berada pada kategori menengah. Intensitas hujan diperkirakan berkisar antara 50 hingga 150 milimeter dengan sifat hujan di atas normal.

Baca Juga: Tembus di Atas 70 Persen, Temuan Kasus TB di Samarinda Sukses Pecahkan Rekor Melampaui Nasional!

“Artinya kondisi cuaca masih lebih basah dibandingkan kondisi normal untuk periode yang sama,” ujarnya, Senin (15/6).

Dia menjelaskan, hujan masih berpotensi terjadi meski wilayah Kaltim mulai mendekati musim kemarau. Hal itu dipengaruhi masa transisi pergantian sirkulasi angin dari Monsun Asia menuju Monsun Australia yang menjadi penanda masuknya musim kemarau.

“Di masa peralihan ini peluang hujan lebat masih cukup tinggi karena terjadi perubahan pola angin dan terkadang muncul pusat tekanan rendah yang dapat memicu pembentukan awan hujan,” jelasnya.

Baca Juga: GPS Tracker Armada DLH Tekan Konsumsi BBM 8 Persen, Bidik Sistem Mandiri Tahun Depan

Dia menerangkan, periode peralihan diperkirakan berlangsung pada akhir Juni hingga pertengahan Juli. Meski demikian, awal musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih cepat dibandingkan kondisi normal di beberapa wilayah Indonesia.

“Biasanya pertemuan angin ini juga bisa terjadi pusat tekanan benda yg bisa menyebabkan hujan deras,” terangnya.

Dia menambahkan, musim kemarau bukan berarti hujan akan hilang sepenuhnya. Curah hujan masih dapat terjadi, namun umumnya dengan intensitas yang lebih rendah.

“Kemarau tetap memiliki peluang hujan, hanya frekuensi dan intensitasnya biasanya lebih kecil dibanding musim hujan,” tambahnya.

Perubahan waktu masuk musim kemarau sendiri dipengaruhi berbagai faktor, baik lokal maupun global. Samarinda yang berada di kawasan khatulistiwa sangat dipengaruhi dinamika atmosfer, termasuk fenomena El Nino dan La Nina.

“Saat ini ada indikasi faktor global yang membuat awal musim kemarau diprakirakan lebih maju dibanding biasanya,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Duito Susanto
#prakirawan cuaca #BMKG Samarinda #samarinda #Badan Meteorologi #kemarau basah