KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Denting musik tradisional, tarian adat, dan syukuran panen mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun ke-53 Desa Budaya Pampang, Kamis (25/6). Namun di balik kemeriahan Festival Budaya Dayak Kenyah tersebut, tersimpan pesan yang jauh lebih besar yaitu menjaga identitas Samarinda, merawat persatuan, dan melestarikan kearifan lingkungan untuk generasi mendatang.
Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan, perayaan yang dirangkai dengan Festival Budaya Dayak Kenyah dan syukuran pascapanen masyarakat Pampang itu tidak hanya bermakna seremonial tahunan. Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi untuk mengingat kembali nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
"Hari ini tidak sekadar seremonial. Ada tiga perayaan sekaligus yang menjadi refleksi bagi kita semua untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya," ujarnya, Kamis (25/6). Menurut Andi Harun, Budaya merupakan identitas penting Kota Samarinda. Dari masyarakat adat, generasi saat ini dapat belajar bahwa Samarinda dibangun melalui semangat gotong royong, persaudaraan, dan persatuan yang lahir dari keberagaman.
Festival budaya juga menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak melupakan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para pendahulu. Salah satunya adalah hubungan manusia dengan Tuhan melalui rasa syukur atas segala nikmat dan kemudahan yang diberikan.
"Kita ada hari ini karena nilai-nilai yang diwariskan para leluhur. Salah satunya bagaimana manusia terus bersyukur kepada Tuhan dan tidak tercerabut dari akar budaya serta karakter bangsa," jelasnya. Selain itu, Andi Harun menilai masyarakat Dayak Kenyah memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun dinilai relevan dengan berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi saat ini, termasuk banjir dan tanah longsor. "Dari budaya Dayak Kenyah, kita belajar bagaimana menjaga alam dan keseimbangan ekosistem. Kalau alam tidak dijaga, pohon ditebang tanpa kendali, maka bencana ekologis pasti datang," tegasnya.
AH juga mengapresiasi putusan Mahkamah Konstitusi yang memperkuat perlindungan terhadap hutan adat. Menurutnya, masyarakat adat terbukti mampu menjaga kelestarian lingkungan karena memanfaatkan sumber daya alam secara bijak tanpa merusak keseimbangan ekosistem.
Lebih jauh, AH menegaskan bahwa warisan budaya tidak hanya berupa tarian, pakaian adat, maupun berbagai atribut tradisional lainnya. Yang lebih penting adalah nilai peradaban yang terkandung di dalamnya. "Yang diwariskan bukan hanya tariannya atau aksesoris budayanya, tetapi nilai moral, etika, persatuan, kepeloporan, serta semangat pengabdian kepada negeri," ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa persatuan tetap menjadi modal utama dalam membangun daerah dan bangsa. Karena itu, seluruh elemen masyarakat harus terus menjaga kebersamaan di tengah berbagai perbedaan. "Modal terbesar bangsa ini adalah persatuan. Kita tidak bisa maju sendiri, tidak bisa sukses sendiri. Kita harus maju dan berhasil bersama," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki