KALTIMPOST.ID-Senja belum benar-benar hilang ketika lorong-lorong Pasar Kemuning di Loa Bakung, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, mulai diselimuti gelap, Rabu (8/7).
Lampu-lampu yang biasanya menerangi lapak pedagang mendadak padam. Suara percakapan perlahan tergantikan deru genset yang menyala bergantian, menjadi satu-satunya sumber tenaga agar aktivitas jual beli tetap bertahan.
Bagi para pedagang, pemandangan seperti itu bukan lagi kejadian yang mengejutkan. Dalam sebulan terakhir, pemadaman listrik bergilir disebut terjadi sekitar empat kali.
Umumnya berlangsung pada sore hingga malam hari, sekitar pukul 18.00 hingga 21.00 Wita, saat pasar masih dipenuhi aktivitas transaksi.
Ani, pedagang ikan di Pasar Kemuning, mengatakan frekuensi pemadaman semakin sering dirasakan. Jeda antar pemadaman pun dinilai semakin pendek sehingga membuat para pedagang harus terus bersiap menghadapi kemungkinan listrik padam sewaktu-waktu.
“Sebulan ini saja sudah ada sekitar empat kali mati lampu. Kemarin baru sekali, selang sekitar tiga hari sudah mati lagi. Biasanya kalau mati lampu itu bisa dari jam 6 sampai jam 9 malam, sekitar tiga jam-an,” ujarnya, Rabu (8/7).
Saat aliran listrik terhenti, sebagian pedagang memilih menyalakan genset agar lampu dan peralatan dagang tetap berfungsi. Namun, pilihan tersebut membawa konsekuensi berupa tambahan biaya operasional yang tidak sedikit.
Menurut Ani, bahan bakar minyak (BBM) untuk genset bisa menghabiskan sekitar Rp 30 ribu setiap kali digunakan.
Nilai itu memang terlihat kecil, tetapi jika pemadaman terus berulang hampir setiap pekan, beban biaya menjadi semakin terasa di tengah keuntungan yang tidak selalu stabil.
“Gara-gara sering mati lampu, pedagang di sini terpaksa pakai genset. Untuk biaya bensin gensetnya saja, sehari itu bisa habis sampai Rp 30.000-an. Jelas ini lumayan merugikan kami para penjual,” katanya.
Ia mengaku pemadaman hampir selalu terjadi setiap pekan. Dalam beberapa pekan terakhir, listrik sempat padam pada Sabtu (4/7) dan Selasa (7/7) malam.
Pola tersebut membuat para pedagang mulai mengantisipasi kemungkinan padam listrik dengan menyiapkan bahan bakar maupun peralatan cadangan.
Di sudut lain pasar, Fadillah yang berjualan buah merasakan dampak berbeda. Baginya, persoalan terbesar bukan sekadar listrik yang padam, melainkan pasar yang mendadak kehilangan suasana. Ketika lorong-lorong menjadi gelap, pembeli memilih membatalkan niat berbelanja.
“Dampak yang kami rasakan sebagai penjual, dagangan jadi sepi. Kalau mati lampu seperti ini kan kondisinya gelap, jadinya jarang orang datang untuk beli,” tuturnya.
Beruntung, pemadaman yang berlangsung sekitar tiga jam belum sampai merusak kualitas buah yang disimpan di dalam lemari pendingin. Namun, tidak semua pedagang memiliki keberuntungan serupa.
Mereka yang bergantung pada pembekuan es batu justru menghadapi risiko kerugian lebih besar karena proses produksi terhenti ketika listrik padam.
“Kalau pemadamannya cuma sekitar tiga jam, sebenarnya tidak ada dampak merusak ke kualitas buah di kulkas, cuma sepi saja. Tapi kalau untuk pedagang es batu, dampaknya besar. Es batu yang sudah setengah jadi bisa mencair kembali dan gagal masak gara-gara kulkasnya mati,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan itu, para pedagang memilih bertahan. Mereka berharap pasokan listrik di kawasan Pasar Kemuning dapat kembali stabil agar aktivitas perdagangan berlangsung normal.
Sebab, bagi mereka, listrik bukan sekadar penerang, melainkan penopang utama roda ekonomi yang terus berputar setiap hari.
“Memang situasinya seperti ini dan yang terkena dampaknya bukan cuma kami saja, tapi semua orang di sini. Sebagai warga ya kami cuma bisa mengikuti kondisi yang ada, walaupun sebetulnya keinginan kami ya listrik bisa menyala terus,” pungkas Fadillah. (rd)
Editor : Romdani.