KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Aksi premanisme di alur Sungai Mahakam kembali memakan korban. Seorang anak buah kapal (ABK) TB Mahakam Indah menjadi korban pengeroyokan setelah menolak permintaan bahan bakar minyak (BBM) dari sekelompok pria yang menghadang kapal di perairan Harapan Baru. Kurang dari beberapa waktu setelah kejadian, Satpolairud Polresta Samarinda berhasil membekuk empat pelaku.
Kasat Polairud Polresta Samarinda AKP Agus Setyawan mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Senin (29/6) sekitar pukul 11.18 Wita saat TB Mahakam Indah berlayar menuju Pangkalan Sangkotek.
Ketika kapal melintasi perairan Harapan Baru, sebuah perahu ces berwarna cokelat yang ditumpangi empat orang mendekati kapal. Para pelaku kemudian naik ke atas kapal dan meminta BBM kepada awak kapal.
"Karena bahan bakar yang dibawa sudah diperhitungkan dan jumlahnya terbatas, permintaan tersebut ditolak oleh ABK. Penolakan itu kemudian memicu keributan hingga salah satu ABK menjadi korban pemukulan dan mengalami luka di beberapa bagian tubuh," ujarnya, Rabu (15/7).
Mendapat laporan kejadian, Unit Gakkum Satpolairud Polresta Samarinda langsung bergerak melakukan penyelidikan. Informasi yang beredar melalui grup WhatsApp maupun media sosial turut mempercepat proses pengungkapan kasus tersebut. "Setelah menerima informasi, tim langsung menuju lokasi dan melakukan penyelidikan. Tidak berlangsung lama, kami berhasil mengamankan empat pelaku beserta barang bukti berupa satu unit perahu ces berwarna cokelat yang digunakan saat beraksi," jelasnya.
Empat pelaku yang diamankan masing-masing berinisial YDW, P alias O, A alias R, dan M alias A. Seluruhnya berusia sekitar 30 hingga 40 tahun. Kepolisian juga masih memburu seorang pelaku lain yang telah ditetapkan sebagai daftar pencarian orang (DPO).
Keempat tersangka dijerat Pasal 262 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP terkait tindak pidana melakukan kekerasan secara bersama-sama terhadap orang atau barang di muka umum.
AKP Agus mengungkapkan, kasus ini menjadi perhatian serius karena aksi premanisme di alur Sungai Mahakam belakangan semakin sering terjadi, khususnya di kawasan Harapan Baru. "Wilayah itu sudah kami petakan sebagai daerah rawan. Karena itu kami meningkatkan patroli bersama KP3 Polresta Samarinda untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi," tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya pengguna transportasi sungai, agar segera melaporkan setiap tindak kejahatan melalui layanan darurat 110 agar dapat segera ditindaklanjuti aparat kepolisian.
"Kami berharap masyarakat aktif memberikan informasi apabila menemukan atau mengalami tindak kejahatan di wilayah alur Sungai Mahakam, sehingga bisa segera kami respons," pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani